Rabu, 04 Juli 2012

Kenikmatan Mahasiswa

Setelah menikah aku kembali ke alma materku. Fakultasku memanggil aku kembali dan menawarkan pekerjaan sebagi dosen salah satu mata kuliah. Ketika masih mahasiswa, nilaiku untuk matakuliah tersebut selalu A. Akupun selalu mendapatkan nilai yan baik selama menjadi mahasiswa. GPA ku selalu diatas 3,5. Dosenku, ketika itu, yang memberi rekomendasi kepada fakultas untuk menawarkan pekerjaan sebagai dosen supaya fakultas bisa membuka kelas kedua untuk mata kuliah tersebut, sehingga ada pilihan bagi para mahasiswa, terutama mahasiswa yang statusnya sudah karyawan. Aku sangat senang mendapat tawaran tersebut. Dosen seniorku diawal memberi bimbingan mengenai bagaimana menyusun rencana kuliah untuk satu semester, bagaimana membuat materi yang akan diajarkan di kelas, bagaimana menggunakan kasus2 sebagai pelengkap kuliah. Aku dengan mudah mencerna bimbingan tersebut, dan aku memilih menggunakan kasus saja dalam membawakan kuliah. Mahasiswaku yang sebagian besar orang kantoran mendapat tugas membaca buku text dan memecahkan kasus berdasarkan bacaan yang ada di buku text. Di kelas aku hanya menjadi fasilitator diskusi sehingga para mahasiswa kuajak untuk menemukan sendiri insight apa yang menjadi pelajaran hari ini. Walaupun aku merupakan dosen baru, para mahasiswa menyukai pola diskusi kasus semacam ini, maklumlah mereka sudah bekerja sehingga lebih menyukai pendekatan kuliah yang praktis, walaupun menggunakan kasus.
Ada seorang mahasiswa yang menarik perhatianku, namanya Rudi. Dia telah bekerja selama 5 tahun dan ingin meneruskan kuliahnya yang terputus beberapa tahun yang lalu karena kesulitan biaya. Orangnya lebih tua dari aku beberapa tahun, ganteng dan badannya tegap, tipeku bangets. Kami cepat menjadi akrab, walaupun ngobrol dengan Rudi hanya kulakukan di kampus sebelum atau setelah jam pelajaranku usai. Memang kuliahku berlangsung sore hari, hari Jumat sampai Minggu. Jumat sore hari, Sabtu dan Minggu the whole day.
Bermula pada suatu siang ketika aku melakukan bimbingan suatu tugas akhir. Rudi menjadi salah satu mahasiswa yang menjadi bimbinganku. Karena memang waktunya untuk belajar yang terbatas, aku banyak membantunya dengan memberikan referensi atau fotocopy materi yang bisa dipakainya untuk mengerjakan tugas akhirnya. Hari Minggu itu setelah kuliah selesai, Rudi bertanya, “Bu Sintia, apakah saya boleh berkunjung ke rumah”. Aku menanyakan untuk apa, dia menjawab untuk mengenalku lebih jauh. Suamiku memang sedang tidak berada di rumah, sehingga aku ok kan saja permintaannya. Malamnya dia datang. Rumahku ada di sebuah kompleks perumahan yang sepi dan tenang. Suamiku memang seorang yang sangat workaholic, sehingga waktunya habis hanya untuk ngurusin bisnisnya saja, aku hampir tidak mendapat perhatian darinya, termasuk urusan ranjang. Makanya ketika Rudi minta ijin berkunjung, aku menjadi berdebar2. Aku jadi membayangkan apakah Rudi bisa memuaskan kebutuhan yang praktis tidak terpenuhi oleh suamiku. Napsuku menjkadi berkobar dengan sendirinya.
Malamnya Rudi datang. “Aku kira gak jadi dateng Rud”, sapaku. “Iya Sin, bolehkan aku manggil Sintia, kan gak di kampus”, jawabnya. “Oh boleh aja, biar lebih akrab kan. Kalo dikampus karena urusannya formal jadi kaku karena gak bisa langsung manggil nama”. “Oh, kamu mau akrab2an dengan aku ya, suami kamu dimana?” “Suamiku sibuk dengan kerjaannya, dia sering sekali keluar kota, bahkan keluar negeri untuk urusan bisnisnya”. “Asik dong, kamu kan bisa ikutan, suami kerja kamu shopping”. “Gak pernah tuh aku diajak”. “Kacian deh kamu, kesepian dong jadinya”. Kami ngobrol ngalor ngidul saja, suasana menjadi sangat akrab. “Rud, aku boleh minta tolong gak?” “Minta tolong apa, kalo aku bisa ya kenapa enggak”. “Slot lemari pakaian di kamarku rusak, bisa minta tolong diperbaiki?” “Aku liat dulu deh, gak apa nih aku masuk kamar kamu”. Kemudian aku mengajaknya naik ke lantai dua, ke kamarku. Kamarku wangi dengan penataan interior yang indah. Dia tersenyum ketika melihat sebagian isi lemari pakaianku. Lingerie ku didominasi warna hitam. Aku hanya tersenyum melihat dia “terkesan” menyaksikan tumpukan lingerie ku. Dengan serius diperbaikinya slot pintu lemari yang rusak. Aku keluar meninggalkannya sendirian di kamar. Napsuku berkobar sejak kedatangannya, pikiranku penuh dengan angan2 mereguk kenikmatan bersama Rudi. Sesaat kemudian pekerjaannya selesai. Saat itu aku masuk. Aku melap peluh di dahiku dengan lembut. AC di kamar memang dimatikan, sehingga udara gerah. “Panas Rud? Biar AC-nya kuhidupkan”, begitu kataku sambil menghidupkan AC. Rudi kaget juga dengan perlakuanku seperti itu. Saat kekagetannya belum hilang, aku kembali melap keringat di dahinya sambil mendekatkan wajahku ke wajahnya. Bahkan kemudian aku mendekatkan bibirku ke bibirnya. Sesaat kemudian kusadari bibirnya dengan lembut telah melumat bibirku. Kedua tangannya dilingkarkan ke leherku. Lalu dia pelan-pelan membuka satu persatu kancing blusku. Akupun dengan pelan-pelan pula membuka kancing kemejanya. Setelah kemejanya lepas, aku menarik resliting jeansnya. Begitu pula yang dia lakukan dnegan rokku, ditariknya resliting yang mengunci rokku. Kemudian ia melepaskan bibirnya dari bibirku dan membelalak menatap keindahan yang ada didepan matanya. Rokku sudah meluncur ke lantai meninggalkan bodiku dengan kulit putih, bersih dan segar, menyusul blusku yang sudah terlepas terlebih dahulu. Langsing, meskipun tidak terlalu tinggi. Kaki dan tanganku ditumbuhi bulu-bulu halus, cukup lebat, kontras dengan kulitku yang putih itu. Toketku yang besar terlihat kencang dibungkus bra hitam berenda. Dia melihat ke bawah, dia semakin dibuat terkesan. Di balik cd minim yang juga berwarna hitam berenda yang indah, tersembul bukit nonokku yang menggairahkan. Di tepi renda itu, tampak sebagian jembutku yang lebat yang menyembul.
Aku juga tersenyum menatap lonjoran tegang di balik cdnya. Kuelus dengan lembut lonjoran itu. Diapun membalasnya dengan mengelus bukit nonokku. Aku memejam sesaat dengan erangan yang pelan ketika dia menyentuh daging kecil di tengah bukit itu. Ia kemudian kembali melumat bibirku dengan lembut. Dilanjutkan dengan menyelusuri leherku dengan bibirnya. Napasnya membelai kulit leherku sehingga terasa geli namun nikmat. Kadang-kadang ia menggigit leherku namun rupanya ia tidak ingin meninggalkan bekas. Ia kemudian turun ke dadaku dan mempermainkan pentilku dengan mulutnya, yang membuat aliran darahku dialiri perasaan geli tapi nikmat.
Aku tidak dapat menahan diriku lagi. Aku menatap batang yang tersembunyi di balik cdnya, yang juga berwarna hitam. Aku mempermainkannya dari luar. Terasa besar, panjang dan keras sekali. Dengan tidak sabar aku kemudian menarik cdnya. Aku terbelalak ketika menyaksikan kontolnya yang tegak dan kencang, panjangnya hampir menyentuh pusarnya. Kugenggam, jari telunjukku gak bisa menyentuh ibu jariku saking besarnya. Kemudian aku mengulum kontolnya. Mulutku penuh dengan kontolnya, padahal hanya kepalanya yang masuk, kebayang kan gimana rasanya kalo kontol besar itu menyesaki nonokku, langsung saja nonokku banjir dengan lendir kenikmatanku. Napsuku sudah benar2 memuncak. Sambil mengulum kepalanya, aku mengocok2 batangnya yang keras sekali. Dia melenguh panjang pendek, menikmati apa yang aku lakukan pada kontolnya.
Rupanya diapun ingin meneruskan aksinya yang terputus karena aku menelanjanginya. Dia menarik kontolnya dari mulut lembutku. Gilirannya yang ingin membuat aku terbang ke awang awang. Dibukanya bra yang menutupi toketku. Dia pun kembali terbelalak memandangi toketku yang bediri dengan tegak. Di sekitar puncak toketku, di sekitar pentilku yang merah kecoklatan, tumbuh bulu-bulu halus. Tapi dia tidak memulainya dari situ. Dia hanya mengelus pentilku sebentar. Itupun sudah membuat aku mendesah2 keenakan. Dia mulai dari leherku. Kulit leherku yang halus licin seperti porselen dan wangi disusuri dengan bibirnya yang hangat. Aku mendesah terpatah-patah. Apalagi ketika dia mulai memijit lembut toketku dan kadang-kadang memelintir pelan pentilku yang merah kecoklat-coklatan. Kurasakan semakin lama pentilku itu pun semakin keras dan kencang. Setelah puas menyusuri leherku, dia turun ke dadaku. Dan segera dilahap nya pentilku yang menonjol merah coklat itu. Aku menjerit pelan. Disedotnya pentilku itu dengan lembut. Mulutnya kemudian berpindah ke toket satunya. Sementara itu dia meremas2 dengan gemas toket yang satunya. Puas dengan toketku dia menyusuri kulitku terus kebawah. Aku menjadi menggelinjang kegelian, terutama ketika dia menciumi puserku. Dia rupanya tidak ingin langsung menuju ke sasaran. Maka dari luar cdku, dia menjelajahi bukit nonokku dengan lidah, bibir dan kadang-kadang dengan jari-jemarinya. Disedotnya dengan nikmat bau khas yang keluar dari nonokku. Setelah cukup puas, baru ditariknya cdku pelan-pelan. Dia tersentak menyaksikan apa yang dilihatnya. Bukit nonokku ditumbuhi jembut yang lebat. “Sin, jembut kamu lebat sekali. Memang temen2 suka becanda ngomongin kamu, luar kota aja rame apalagi dalem kotanya. Bulu di tempat yang terbuka saja subur, apalagi bulu di tempat yang tersembunyi”. Aku diem saja mendengar gurauannya. Aku sedang menikmati apa yang sedang dia lakukan. Dia segera menenggelamkan diri di situ, di hutan jembutku. Lidahnya segera menyusuri jembutku dan kemudian melanjutkannya pada nonokku. Aku menjerit kecil ketika lidahnya menancap di nonokku. Dan jeritan kecil itu kemudian disusul jeritan dan erangan patah-patah yang terus menerus serta gerakan-gerakan serupa cacing kepanasan. Aku memang kepanasan oleh gairah yang membakarku. Jeritanku membuat dia makin bernapsu menguras lendir kenikmatan dinonokku. Kadang-kadang lidahnya ditancapkan di tonjolan kecil di atas nonokku. Di itilku. Makin santerlah erangan-erangan ku dan aku makin menggelinjang.
Aku sudah tidak bisa menahan napsuku lebih lama lagi. Aku melepaskan nonokku dari jilatannya. Aku menarik sebuah bangku rias kecil yang tadi menjadi ganjal kakiku untuk mengangkang. Dia kuminta duduk di bangku itu. Begitu dia duduk, aku kembali memagut kontolnya dengan mulutku secara lembut. Tapi itu tidak lama, karena aku kemudian memegang kontolnya dan membimbingnya masuk ke dalam nonokku dan aku duduk di atas pangkuannya. Begitu kontolnya amblas ke dalam nonokku, aku menjerit kecil saking nikmatnya. Terasa sekali kontolnya yang besar dan keras itu menyeruak menembus nonokku yang biasanya cuma dilewati kontol suamiku yang kecil, itupun jarang dilakukannya. Aku memegangi pundaknya dan menggerakkan pinggulku dengan gerakan serupa spiral. Naik turun dan memutar dengan pelan tapi bertenaga. Suara gesekan pemukaan kontolnya dengan selaput lendir nonokku menimbulkan suara kerenyit-kerenyit yang indah sehingga menimbukan sensasi tambahan ke otakku. Demikian juga dengan gesekan jembutnya yang lebat dengan jembutku yang juga lebat. Suara-suara erangan dan desahan napas yang terpatah-patah, suara gesekan kontol dan selaput lendir nonokku serta suara gesekan jembut kami berbaur dengan suara lagu mistis Sarah Brightman dari CD yang kuputar. Aku memang sengaja mengiringi permainan cinta kami dengan lagu-lagu seperti itu. Apalagi lampu di kamar juga remang-remang setelah aku tadi mematikan lampu yang terang. Dia tidak membiarkan toketku yang ikut bergerak sesuai dengan gerakan tubuhku. Mataku kadang yang terpejam kadang terbuka dan sorot mataku sayu karena rasa nikmat luar biasa yang sedang menggesek nonokku. Kenikmatan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Sampe akhirnya, “Ah.. Aku.. Aku nyampe, Rud!” Sesaat aku terdiam sambil menengadahkan wajahku ke atas, tapi mataku masih terpejam. Sebisa mungkin aku terus menggoyangkan pinggulku agar bisa merasakan kenikmatan yang maksimal. Selain meremas toketku, tangannya disusupkan di selangkanganku dan mencari itil di atas lubang nonokku, yang dipenuhi oleh kontolnya. Otot nonokku seakan mencengkeram dengan kuat otot kontolnya, tapi sejauh ini dia tidak merasakan tanda-tanda mau ngecret.
Tubuhku tetap naik turun perlahan-lahan, menelan seluruh kontolnya. Selanjutnya aku kembali bergerak seperti sedang menunggang kuda. Tubuhku melonjak-lonjak. Pinggulku bergerak turun naik. “Ouugghh.. Sin, luar biasa!” jeritnya merasakan hebatnya permainanku. Pinggulku mengaduk-aduk lincah, mengulek liar tanpa henti. Dia mencengkeram kedua toketku, diremas dan dipilin-pilin. Wajahnya dibenamkan ke dadaku. Menciumi pentilku. Dihisapnya kuat-kuat sambil meremas-remas. Kami berdua saling berlomba memberi kepuasan. Kami tidak lagi merasakan panasnya udara meski kamar menggunakan AC. Tubuh kami bersimbah peluh, membuat tubuh kami jadi lengket satu sama lain. Aku berkutat mengaduk-aduk dengan pinggulku. Dia menggoyangkan pantatnya. Tusukan kontolnya semakin cepat seiring dengan liukan pinggulku yang tak kalah cepatnya. Permainan kami semakin meningkat dahsyat. Aku semakin bersemangat memacu pinggulku untuk bergoyang. Tak selang beberapa detik kemudian, aku merasakan desakan seperti tadi. Aku terus memacu sambil menjerit-jerit histeris. Aku mulai mengejang, mengerang panjang. Tubuhku menghentak-hentak liar. Akhirnya, aku tidak kuat lagi menahan desakan dalam diriku. Sambil mendesakan pinggulku kuat-kuat, aku berteriak berteriak, “Ah.. Ah.. Ini yang kedua.. Rud, aku nyampe.. Uhh!”
“Rud kamu kuat banget, aku udah dua kali nyampe kamu belum ngecret juga. Pindah ke ranjang yuk Rud”. Dia mengangkatku ke ranjang, tanpa melepaskan kontolnya yang masih menancap di lubang nonokku. Maka begitu aku telentang di ranjang, dia masih ada di atasku. Kontolnya pun masih masuk penuh di dalam nonokku. Kami melanjutkan permainan cinta yang lembut tapi panas itu. Kini dia berada di atas, maka dia lebih bebas bermanuver. “Pelan aja Rud, aku masih pengen ngerasain nyampe lagi”, kataku. Kini gerakannya pelan dan lembut memenuhi permintaanku. Erangan dan desahan patah-patahku kembali terdengar. Aku menarik punggungnya agar dia lebih dekat ke badanku. Dadanya bergesekan dengan toketku menambah kenikmatan yang sedang kurasakan. Dia melumat bibir merahku yang menganga, sehingga jeritanku agak bekurang karena kami sibuk saling melumat bibir. Aku melenguh merasakan desakan kontolnya yang besar itu. Aku sampai menahan nafas saat kontolnya terasa mentok di dalam, seluruh kontolnya amblas di dalam. Dia terus menggerakkan pinggulnya pelan2. Enjotan makin berjalan lancar. Semakin membanjirnya cairan dalam nonokku membuat kontolnya keluar masuk dengan lancarnya. Aku mengimbangi dengan gerakan pinggulku. Meliuk perlahan. Naik turun mengikuti irama enjotannya. Gerakan kami semakin lama semakin meningkat cepat dan bertambah liar. Gerakannya sudah tidak beraturan, enjotannya mencapai bagian-bagian peka di nonokku. Aku bagaikan berada di surga merasakan kenikmatan yang luar biasa ini. Kontolnya menjejali penuh seluruh nonokku, tak ada sedikitpun ruang yang tersisa hingga gesekan kontolnya sangat terasa di seluruh dinding nonokku. Aku merintih, melenguh dan mengerang merasakan semua kenikmatan ini. Aku mengakui keperkasaan dan kelihaiannya di atas ranjang. Yang pasti aku merasakan kepuasan tak terhingga ngentot dengannya. Dia bergerak semakin cepat. Kontolnya bertubi-tubi menusuk daerah-daerah sensitiveku. Aku meregang tak kuasa menahan kenikmatan, sementara dia dengan gagahnya masih mengayunkan pinggulnya naik turun, ke kiri dan ke kanan. Eranganku semakin keras. Melihat reaksiku, dia mempercepat gerakanku. Kontolnya yang besar dan panjang itu keluar masuk dengan cepatnya. Tubuhku sudah basah bermandikan keringat. Dia pun demikian. Aku meraih tubuhnya untuk kudekap. Kurengkuh seluruh tubuhnya sehingga dia menindih tubuhku dengan erat. Aku membenamkan wajahku disamping bahunya. Pinggul kuangkat tinggi-tinggi sementara kedua tanganku menggapai pantatnya dan menekan kuat-kuat. Aku meregang. Tubuhku mengejang-ngejang. “Rud…”, hanya itu yang bisa keluar dari mulutku saking dahsyatnya kenikmatan yang kualami bersamanya. Dia menciumi wajah dan bibirku. “Aku.. Ah.. Aku.. Uh.. Yang ketiga.. Aku nyampe lagi, Rud.. Ahh”. Setelah jeritan panjang itu, mataku terbuka. Aku berbisik terengah-engah. “Aku.. Aku.. Sudah cukup, Rud. Saatnya untuk kamu”.
Dia tahu yang aku maksudkan, kontolnya mulai lagi menggesek nonokku. Pinggulnya menghunjam-hunjam dengan cepat mengeluar masukkan kontolnya yang tegang. Aku memeluk punggungnya dengan kuat, kukuku terasa menembus kulitnya. Dia merintih dan memekik kesakitan. Beberapa kali dia sempat menggigit bibirku. Dia merasakan betapa nonokku yang hangat dan lembut itu menjepit sangat ketat kontolnya. Ketika ditarik keluar terasa daging nonokku seolah mencengkeram kuat kontolnya, sehingga terasa ikut keluar. “Sin, aku nggak tahan lagi nih aahhgghghh”, bisiknya. “Peju ku mau keluar”. “Keluarin didalem aja Rud, biar lebih nikmat”, jawabku. Dan akhirnya pejunya ngecret di nonokku. Kami pun berpelukan puas. Setelah itu, aku memintanya untuk tetap berada di atas tubuhku barang sesaat. Dengan lembut ia menciumi bibirku dan tangannya mengusap-usap pentilku. Sensasi yang kurasakan luar biasa.
Setelah cukup istirahat dia menarik kontolnya yang sebenarnya masih sedikit tegang dari lubang nonokku. Wajahku berkeringat dan anak rambutnya satu dua menempel di dahiku. Kami kemudian pergi ke kamar mandi. “Sin, kamu justru kelihatan cantik setelah ngentot”. Aku hanya tertawa.”Memang setelah ngentot denganmu tadi, seluruh pori-poriku seperti terbuka. Aku capai tapi merasa segar”, jawabku dengan berbinar-binar. Di bawah shower, kami membersihkan diri dengan mandi bersama-sama. Kadang-kadang kami saling membersihkan satu sama lain. Aku membersihkan kontolnya dengan sabun dan dia membersihkan sekitar nonokku juga. Aku tertawa geli saat dia dengan halus mengusap-usap nonokku yang berjembut lebat itu.
Setelah itu, kami duduk-duduk saja di sofa di depan TV, bertelanjang bulat. Kami menonton TV, sambil mengobrol dan menikmati kopi panas. “Kamu tadi luar biasa, Rud.” kataku memuji. “Aku sampai nyampe tiga kali kamu baru ngecret. Nikmat banget deh”. Ia hanya tersenyum. Kami mengobrol sampai malam. “Menginap di sini saja, Rud. Ini sudah malam. Besok pagi-pagi sekali kamu bisa pulang.” Setelah berpikir sejenak dia mengiyakan saranku. “Kalau begitu masukkan saja motormu di garasi” kataku sambil memberikan kunci garasi. Dia mengenakan pakaiannya, turun untuk memasukkan motor tigernya ke garasi seperti yang kusarankan. Ketika dia naik kembali ke atas, aku sudah menyiapkan kopi tambahan. “Kopinya tambah lagi, Rud?” tanyaku. Dia mengiyakan saja. Kami kembali mengobrol. Aku kemudian menatapnya lama, sambil bertanya, “Kau tidak capek, Rud?”. “Tidak”, jawabnya.
Sekali lagi aku menatapnya lama lalu tangannya merangkul leherku dan sesaat kemudian ia telah melumat bibirku kembali dengan lembut. Dia segera meraba toketku. Ia masih melumat bibirku saat tanganku pelan-pelan membuka kancing kemejanya dan kemudian melanjutkannya dengan menarik resliting celananya.Dia tinggal mengenakan cd. Kemudian dia menyambar toketku. Semakin lama, seiring dengan jeritan kecilku yang terpatah-patah, toketku semakin kenyal dan mengeras. Aku menarik cdnya. Sejenak kemudian aku telah mengulum kontolnya yang sejak tadi juga sudah tegang dan keras. Tapi yang kulakukannya tidak lama. Aku memintanya untuk tidur telentang di sofa. Lalu aku telungkup di atasnya membelakanginya. Nonokku yang sudah mulai basah berlendir dan kelihatan merah kudekatkan ke mulutnya. Aku segera menangkap kontolnya yang berdiri tegak dan mengulumnya. Maka kami bedua saling mengulum, saling menjilati dan saling menyedot. Kadang-kadang aku berhenti melakukan aksiku karena rasa nikmat yang luar biasa ketika lubang nonokku yang merah segar serta itilku dimainkan dengan mulut dan lidahnya. Akupun mendesah mengerang terpatah-patah.
Aku sudah ingin menuntaskan permainan kedua ini. Aku menggeser pinggulku dan menggeser menuju kontolnya yang semakin lama semakin keras. Aku menangkap kontolnya dan membimbingnya memasuki nonokku. Dengan masih membelakanginya, aku menggoyang pinggulku dengan lembut. Tapi sesaat kemudian, aku berbalik menghadapnya. Gerakanku saat aku berbalik menimbukan gesekan pada kontolnya yang luar biasa. Membuat sensasi yang semakin nikmat. Maka dengan menghadap dia aku melanjutkan gerakan spiral pinggulku. Naik turun, maju mundur dan memutar. Dia juga berusaha menggerakkan pinggulnya agar menimbulkan sensasi yang lebih nikmat. Maka semakin santerlah erangan dan desahan dari mulutku yang terbuka, sambil mataki terpejam. Suara-suara itu beriringan dengan lagu Deep Forest dari CD yang terus mengalun mistis. Tangannya yang semula memegangi pinggulku menggeser keatas mempermainkan toketku yang bergoyang-goyang mengikuti gerakan pinggulnya. Dielus dan dipelintirnya kedua pentilku yang coklat kemerahan. Sekian lama kemudian aku menjerit sambil meracau..”Uhh.. Uhh.. Aku nympe lagi, Rud.. Ah.. Ahh..”
Setelah aku menjerit panjang karena nyampe, aku menelungkup dengan beralaskan bantal sofa, dengan kedua kakiku mengangkang terbuka, sehingga belahan nonokku yang indah, merah dan basah berlendir tampak sangat menggairahkan. Aku memintanya juga untuk menelungkup di atasku. Dengan kedua tangannya yang memegangi kedua toketku sekaligus sebagai penahan berat badannya, dia menelungkup di atasku. Dan disodokkannya dengan lembut kontolnya yang masih tegang dan keras ke lubang nonokku dari arah belakang. Kini dia yang harus lebih aktif menggerakkan pinggulnya maju mundur, naik turun. Aku masih terus mengerang dan mendesah terpatah-patah dengan mata yang terpejam. Tangannya juga tetap aktif mempermainkan toket dan pentilku. Mulutnya menelusuri leherku yang jenjang dan halus. Dia juga merasa bahwa lahar panasnya akan meledak. “Uhh.. Ahh sebentar lagi.. Sebentar lagi hampir..!”, katanya terbata-bata. “Uhh.. Uhh.. Aku juga, Rud. Jangan kau cabut kontolmu. Kita sama-sama.. Ahh.. Ahh”. Sesaat kemudian kami sama-sama menjerit kecil, menandai puncak kenikmatan yang kami capai bersamaan. Seperti sebelumnya, aku memintanya untuk tidak segera mencabut kontolnya. Mataku masih terpejam menikmati, dia juga masih mempermainkan toketku dengan lembut. “Aku nikmat sekali malam ini, Rud. Kamu luar biasa, bisa membuatku terkapar saking nikmatnya”. Aku kemudian memintanya mencabut kontolnya dari lubang nonokku. Lalu aku telentang dan dia mencium bibirku dengan lembut. Ia seterusnya meneguk kopi yang sudah mulai dingin. Tampak bahwa ia kehausan setelah permainan seks yang indah itu. Dengan masih bertelanjang bulat, aku berjalan ke luar ruangan itu dan sesaat kemudian membawa sebuah lap dan semprotan air untuk membersihkan pejunya dan lendir nonokku yang tumpah di atas sofa. Dia membantu membersihkan noda itu. Setelah itu, ia menuntunku menuju kamar mandi untuk bersama-sama membersihkan diri. Karena kecapaian dan memang sudah cukup malam, kami kemudian memutuskan untuk tidur. Kami tidur dengan bertelanjang bulat, supaya tidak dingin suhu AC kuminimalkan saja. “Aku memang biasa begini, Rud. Rasanya lebih nyaman dan bebas bernapas”, kataku. Diranjang aku memeluknya dan menyandarkan wajahku di dadanya. Dia tersenyum saja saat toketku yang hangat dan lembut terasa bergesekan dengan dadanya.
Esoknya, pagi-pagi sekali HPnya sudah berbunyi. “Siapa, Rud? Pacarmu, ya?” tanyaku. Ia hanya tersenyum dan mengiyakan pertanyaanku. Kemudian aku bangkit dari ranjang. Kemudian ke kamar mandi, pipis. .Sesaat aku keluar dari kamar mandi dan berbisik kepadanya, “Kau tidak ingin mengulang kenikmatan semalam, Rud?” Dia tersenyum, “Sebentar, Sin..”, jawabnya sambil menuju ke kamar mandi, karena ingin kencing. Kami langsung berpagutan lagi, aku sangat bernapsu meladeni ciumannya. Dia mencium bibirku, kemudian lidahnya menjalar menuju ke toketku dan mengulum pentilku. Terus menuju keperut dan menjilati pusarku hingga aku menggelepar menerima rangsangan itu yang terasa nikmat. “Rud, enak sekali..” nafasku terengah2. Lumatan dilanjutkan pada itilku, dijilati, dikulum2, sehingga aku semakin terangsang hebat. Pantatku terangkat supaya lebih dekat lagi kemulutnya. Diapun memainkan lidahnya ke dalam nonokku yang sudah dibukanya sedikit dengan jari. Ketika responsku nampak sudah hampir mencapai puncak, dia menghentikannya. Dia ganti dengan posisi 69. Dia telentang dan minta aku telungkup diatas tubuhnya tapi kepalaku ke arah kontolnya. Dia minta aku untuk kembali menjilati kepala kontolnya lalu mengulum kontolnya keluar masuk mulutku dari atas. Sementara dia menjilati nonok dan itilku lagi dari bawah. Selang beberapa lama kami melakukan pemanasan maka dia berinisiatif untuk menancapkan kontolnya di nonokku. Aku ditelentangkannya, paha kukangkangkan, pantatku diganjal dengan bantal. “Buat apa Rud kok diganjel bantal segala”, tanyaku. “Biar masuknya dalem banget Sin, nanti kamu juga ngerasa enaknya”, jawabnya sambil menelungkup diatasku. Kontol digesek2kan di nonokku yang sudah banyak lendirnya lagi karena itilku dijilati barusan. “Ayo Rud cepat, aku sudah tidak tahan lagi”, pintaku dengan bernafsu. Dengan pelan tapi pasti dia memasukan kontolnya ke nonokku. Aku melenguh sambil merasakan kontolnya yang besar menerobos nonokku. Dia terus menekan2 kontolnya dengan pelan sehingga akhirnya masuk semua. Lalu dia tarik pelan-pelan juga dan dimasukkan lagi sampai mendalam, terasa kontolnya nancep dalem sekali. “Rud enjot yang cepat dong, aku udah mau nyampe ach.. Uch.. Enak Rud”, lenguhku. “Aku juga udah mau ngecret, Sin”, jawabnya. Dengan hitungan detik kami berdua nyampe bersama sambil merapatkan pelukan, terasa nonokku berkedutan meremes2 kontolnya. Lemas dan capai kami berbaring sebentar untuk memulihkan tenaga. Kemudian melakukan aktivitas rutin kembali untuk hari itu. 

Siswi baru yang cantik


Ayu adalah adik dari kakaknya, kakak dari adiknya dan anak dari ibu bapaknya, sekaligus anak baru di sekolah ini. Ayu memiliki paras muka yang sangat cantik, periang, ramah, baik hati dan murah senyum di mata gue. Kadang-kadang ayu juga senyum-senyum di kelas kalo lagi sendirian, hal ini membuat hati gue meresa terketuk untuk menjadi seorang pahlawan yang selalu siap menemani ayu di kelas ini. Dan gak jarang gue merasakan ada keanehan yang terjadi dengan tingkah laku ayu. Apakah ayu senyum karena mikirin gue? apakah ayu jatuh cinta sama gue?, secara gue adalah pria yang tampan di kelas itu. “Oke GR gue kumat”.
Gue adalah anak dari bapak dan mak gue, sekaligus seorang cowok yang baik hati, suka menolong dan rajin menabung. Oke, ini gak penting banget untuk di bahas. Lanjut cerita.. mungkin gue telah menjadi temen pertama bagi ayu di sekolah ini, yah.. gue telah berhasil menjadi orang yang pertama mengenal ayu di sekolah ini. *Dan menjadi orang ganteng pertama di mata ayu. 
WAKTU ITU ….Ayu tampak kebingungan di lapangan basket, tepatnya di depan kelas gue dan ayu, gue berpikir sepertinya ayu tersesat di lapangan basket saat itu dan sudah pastinya ayu membutuhkan pertolongan dari seorang superMEN untuk menolongnya. Dan tidak bisa dipungkiri lagi bahwa superMEN itu adalah gue. dari kejadian yang gak banget inilah kedekatan gue dan ayu bermulai dengan begitu indahnya. (ada ya, orang sesat di lapangan basket? ada juga di hutan Dan)
Gue emang mempunyai bakat untuk menjadi tim SAR karena gue suka menolong orang lain. gue juga bisa menjadi tim SAR untuk menolong cewek-cewek baru di sekolah ini, terutama cewek yang baru pindah sekolah, yang baru putus dari cowoknya, atau baru gila. Gue gak bisa bohongi segala rasa yang ada di dalam hati gue, gue adalah superMEN pertama yang menjadi korban jatuh cinta pada pandangan pertama. Oh tuhan.. inikah yang dinamakan dengan cinta pada pandangan pertama? Oh BATMAN, jebakan apa yang telah kau perbuat?
Begitu hati gue berasa cenat-cenut tiap ada ayu, kenapa peluhku menetes setiap ada ayu, kenapa gue salah tingkah saat ada ayu. .. ah, kenapa superMEN nyanyiin lagunya smash ya *Jedotin kepala di tembok.
Saat itu kita lagi berduaan di kantin sudut sekolah, tepatnya deket toilet. kita berdua ngobrol panjang lebar, dan luas banget, kira-kira seluas perasaan gue terhadap ayu saat itu. Ayu juga banyak cerita ke gue kenapa dia harus pindah dari sekolah lamanya dan bisa bertemu makhluk asing yang ganteng seperti gue di sekolahnya yang baru ini.
*gue yakin mata ayu katarak, dia bilang gue makhluk ganteng? lala..laaaalaa
Setelah diselidiki tim Densus 89, ternyata mata ayu baik-baik saja, haja saja ayu masih trauma dengan kejadian di sekolah lamanya. Di sekolah ayu yang lamanya, ayu pernah bermasalah dengan wali kelasnya. Ibu Lily, ibu lily adalah gue muda yang berbakat di sekolah itu, ah dengan ibu lily inilah ayu bermasalah. ayu pernah mencolok mata wali kelasnya tersebut “ibu lily” menggunakan pena tinta secara tidak sengaja, karena saat itu ayu sedang emosi berat sama ibu lily, karena ibu lily ketahuan jalan sama gebetan ayu waktu itu dan parahnya lagi ibu lily dan gebetan ayu tersebut udah jadian seminggu yang lalu. *pikirkan sendiri, apa yang akan terjadi setelah itu…
Rasa terharu gue mulai muncul di sela-sela ayu bercerita panjang lebarnya tentang masa lalu ayu yang suram, dan gue selalu siap menjadi pahlawan kesiangan bagi orang-orang cantik yang bernasib sama seperti ayu. Gue merelakan sejenak ayu berbaring di pundak gue, dan gak lupa gue menyubangkan tangan gue untuk menghapus air matanya yang terus menetes. Entah apa yang ada di otak gue saat itu, gue juga menempelkan wajah gue di atas wajah ayu, mata ayu mulai terpejam, dan bibir kami berdua juga mulai menempel dengan sendirinya *pikirkan sendiri, apa yang akan terjadi setelah itu.. (gue kasih bocoran ya, setelah itu gue mendadak serangan jantung dan pingsan di pelukannya ayu -__-”…)
Keesokan harinya gue bertemu lagi dengan ayu di kantin, hari ini ayu terlihat lebih cantik dari hari-hari biasanya.. Oh tuhan,….gue mengucek-ngucekkan mata gue dengan menggunakan saos secukupnya di kantin itu.  gue merasa semakin jatuh hati kepada ayu, ayu memang telah membuat mata gue segar kembali, walaupun telah menghabiskan 1 botol saos tadinya. 
Gue suka banget menatap mata ayu, entah kenapa kedua bola mata itu selalu membuat jantung gue terasa berdetak lebih kencang, darah gue seakan mengalir lebih deras, dan seluruh tubuh gue kejang-kejang. Gue juga gak tau apa yang terjadi di kantin itu, sebenarnya gue jatuh cinta atau lagi terserang virus H1N1 sih?. Mata ayu juga mampu membuat gue betah berlama-lama menatapnya, ingin pula rasanya gue mengulang kejadian beberapa hari yang lalu saat kita berdua di kantin ini.
Setelah gue perhatikan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, ternyata ayu ini juga mempunyai senyum yang lumanyan manis di mata gue. Udah gak aneh kalo senyum ayu yang manis itu mengundang para cowok di sekitarnya merasa terbang melayang-layang di udara dan jatuh lagi ke lantai dengan posisi kepala mendarat lebih awal. Gue tau bahwa virus-virus cinta juga telah menyebar di mata temen-temen gue yang lainnya dalam kelas ini, temen-temen gue juga mulai banyak yang suka dengan ayu dan ini pertanda buruk bagi gue. (Lagi) Lagi-lagi darah gue terasa mengalir sangat cepat dari ujung kepala, membelok di lengan kiri dan mengalir deras menuju selangkangan dan alhamdulillah berakhir di toilet. *yah saat itu diare gue kumat lagi.
Gak terasa sudah 5 bulan gue deket dengan ayu, pergi sekolah bareng, pulangnya pun kita selalu barengan, tapi gue masih belom bisa mengungkapkan semua perasaan yang gue pendam selama ini pada ayu. karena gue tau ayu masih belum bisa melupakan mantan gebetannya tersebut.
Kita bagaikan pinang dibelah dua, kita mempunyai kesukaan yang sama dan hobi yang sama loh, diantaranya :
1. Ayu suka banget dengan nasi goreng, iya gue juga suka.
2. Ayu rajin bikin PR dirumah, iya gue juga rajin bikin PR tapi di rumah ayu.
3. Ayu hobinya membaca novel, iya lagi-lagi gue juga suka baca novel
4. Ayu suka dengan cowok ganteng dan romantis , Iya.. gue juga suka. *Eh,..berarti gue homo dong? Gak-gak yang terakhir cancel aja..

http://sampriste00.blogspot.com/html/

Bersambung ke Cerita Dewasa Part 2 (siswi baru itu pacarku).. Comingsoon!!

Petualangan Birahi


Cerita Sex – Petualanganku di dunia birahi sudah malang melintang. Dimana pun lokasi syur di Jakarta sudah pernah ku datangi. Ada satu tempat favoritku di daerah Jakarta Timur. Tempat itu memang untuk kelas bawah, tapi aku menemukan keunikan tersendiri di situ. Ceweknya banyak yang muda-muda dan masih polos seperti orang desa. Dandanannya pun masih seperti di kampungnya.
Aku akhirnya punya langganan, namanya Katem, tapi lalu kuganti namanya jadi Ami. Jadi aku panggil dia Ami. Dia akhirnya terbiasa. Suatu hari dia bercerita ingin pulang kampung. Aku menawarkan diri mengantarnya sampai ke rumahnya. Dia dengan senangnya menyambut tawaranku. Kami akhirnya janjian untuk berangkat bersama.
Kami janjian ketemu di halte mikrolet di dekat pasar. Dari situ kami menuju Pulo Gadung untuk mengambil bus jurusan Cirebon.
Baru sekali itu aku naik bus dari Pulo Gadung dan bersama cewek. Sorry aku lupa menggambarkan bagaimana profil Mia. Usianya sekitar 15 tahun, mukanya manis, kulitnya agak gelap tingginya sekitar 155 cm. Rambut lurus sebahu. Bicara kurang lancar berbahasa Indonesia, dia sekolah sampai kelas 4 SD.

Sekitar 3 jam setengah akhirnya kami sampai di pemberhentian sebelum kota Indramayu. Sebut saja KS, kami menyeberang jalan, dan di situ sudah ada puluhan ojek. Mia menyebut nama kampungnya dan kami menyewa 2 ojek dengan ongkos masing-masing 20 ribu. Rupanya tempatnya jauh juga masuk kedalam.
Di kampung-kampung Indramayu dan Karawang, cukup banyak orang tua yang menganjurkan anaknya jadi pelacur. Jadi mereka sama sekali tidak keberatan ketika anaknya punya tamu. Bagi ortunya tamu itu adalah rejeki dan ini masuk area bisnis jadinya. “anak nginep disini aja, pulang ke jakarta besoklah, ngapain buru-buru pulang,” kata bapaknya. Jadi sebelum gw memohon sudah ditawari so ya why not
kan. Lantas gw keluarin Rp 100k kasi langsung sama emaknya. ” Mak ini buat beli makanan, nanti malam saya makan disini.”
Wah itu emak langsung buru-buru pergi, pulangnya nenteng ayam hidup, lalu bapaknya suruh motong tuh ayam. Malamnya hidangannya adalah ayam goreng, sambel dan lauk berkuahnya 2 bungkus indomi direbus dengan banyak air. Yang makan berenam. Adik si cewek ada 2 soalnya. Gw gak bisa makan banyak, tapi dipaksa juga. Gw kurang selera, karena ayamnya masih keras dan masih bau amisnya ayam. Gw telen-telenin aja, abis kepaksa. Mau makan indomienya. Biasanya dua bungkus gw makan sendiri, ini dua bungkus dimakan berenam. Wah gw jadi gak enak body.
Abis makan gw keluarin 50 k kasi ke bapaknya untuk beli rokok dan 50k lagi gw kasi ke dia juga dengan pesen untuk keamanan.
Wekkk rumah tuh bapak akhirnya dijagain 2 hansip kampung semalaman. Buset deh, jadi raja minyak gw di kampung ini. Abis makan bukan terus tiarap, ngobrol dulu ama bokapnya ke utara-selatan. Yah bisa-bisa gw menerka minat obrolan dia. Begitu gw tau dia tertarik ama pertanian. Gw keluarin jurus-jurus dewa mabok gw untuk mengimbangi percakapannya. Bukan mau sombong sih diajak ngomong soal apa aja dari mulai menanam padi sampai nuklir korea utara gw bisa njabani. Kalo soal olah raga gw nyerah deh, gak hobi. Namanya ilmu dewa mabuk, si bapak jadi kalah ilmu ama gw, wakakakak. Gw inget hari itu dia nanya-nanya nanem apa yang hasilnya lumayan. Gw bilang semangka tanpa biji bagus tuh pasarnya. Dia bingung, semangka tanpa biji yang
ditanam apanya. Gw bilang ya biji, ada tuh bibitnya di jual kalengan cuma harganya rada mahal. “mau dong” kata bapaknya. Yah nanti deh kalo sy kemari lagi.
Ngobrol sampai jam 10 an sambil minum kopi dan makan kacang garuda. Akhirnya tuh bapak nyadar juga dan nyuruh gw istirahat. ” Kamarnya udah disiapi, silahkan nak istirahat dulu.”. Jam 10 malam di kampung, sunyinya kayak orang tuli, mana gelap lagi. Tapi gw PD aja meski rada was-was juga, Gimana gak PD rumah dijagai 2 hansip. Kayaknya hansip kelurahan.
Was-wasnya kalau ada apa-apa gw lari kemana. Gw kan gak bawa kendaraan. Oh ya gw lupa. Kalo masuk kampung pedalaman gitu dan mau nginep jangan bawa mobil,
mencolok bo. Orang jadi banyak perhatiin kita. Kalo kita datang naik ojek, kita jadi membaur dan gak kelihatan mentang-mentang.
Si bapak nunjuki kamar tidur untuk gw, dan anak perempuannya udah tiduran di situ. Kamarnya cuma diterangi lampu minyak dan yang istimewa tempat tidurnya pake kelambu. buset dah seumur-umur gw baru pernah kali itu tidur pake kelambu.
Tadinya pengen malu, tapi karena bapaknya nganjurin gw tidur ama anaknya, gw jadi bingung pengen malu ama siapa wakakakakak.
Besok paginya gw rada kesiangan bangunnya, malemnya kebanyakan tiarap kali ya. eh si cewek walau udah bangun tapi dia belum keluar dari tempat tidur.Mungkin nunggu sampai gw juga bangun.Wah setia banget.
Di luar udah disiapi kopi dan nasi goreng. Wuissh raja minyak diservice abis.
Gw salut ama diri gw sendiri, sebab petualangan itu gw jalani sendiri tanpa kawan. nekat abis. Gw akhirnya nginep lagi semalem, mengingat dana dikantong masih mencukupi dan gw rasa aman-aman aja. Seharian di kampung gw ditemani tetangganya (laki-laki) nyewa motor muter-muter di kampung. Eh dia malah nunjuki potensi cewek di desanya. Jadi gw dikenali ama banyak cewe. Buset banget, ternyata banyak yang ok. Gilanya dia nawari perawan. Bukan satu, kalo gw nggak salah inget ada 3 semuanya dikenali ke gw.
Tetangga sebelah si Mia ini rupanya juga lagi pulang kampung. Gilanya dia kelihatan lebih muda, mungkin usianya masih 13 – 14 tahun . Aku diperkenalkan dan dia mengaku kerja (melacur) di daerah Cilincing. Tempat yang dia sebutkan itu belum pernah aku datangi.
Setelah nginap semalam aku kemudian pamit kepada orang tua si Mia. Diantar oleh tetangganya aku berangkat dari rumah Mia. Heri begitu nama tetangga Mia yang menjadi penunjuk jalan.
****
Aku bukan sungguh-sungguh pulang tapi pindah nginap di kampung yang letaknya jauh lebih ke pelosok. Tujuannya adalah rumah Nani. Anaknya manis agak tinggi sekitar 160 usianya juga masih amat belia sekitar 15 tahun. Dia termasuk stok baru, karena belum pernah dikaryakan. Kata Heri Nani baru cerai. Padahal mereka belum genap 3 bulan kawin. Seperti diceritakan Heri, orang-orang di kampung itu banyak yang kawin singkat hanya untuk mengejar status janda. Dengan status janda, dia bisa punya KTP dan bisa kerja ke kota.
Rumah Nani tidak begitu besar, berdinding separuh tembok separuh bambu anyaman (gedek).. Kami disambut seorang wanita usianya sekitar 32 tahun, dia adalah ibunya Nani.
“Mari mas masuk,” katanya mempersilahkan kami.
Aku memilih duduk di bale-bale (amben) bambu di teras rumahnya. Sementara itu Heri masuk bersama ibunya Nani, sepertinya ada yang mereka rembukkan.
“Dari mana mas,” tanya ibu si Nani.
“Jakarta,” jawabku singkat.
Maknya si Nani ini kelihatan akrab sekali, sedangkan aku masih rada kikuk. Aku merasa malu karena niatku akan menginap di rumah itu, kayaknya vulgar banget. Tapi Bu Karta begitu dia mengenalkan namanyam dia pintar sekali mencairkan suasana, dan dia sudah tau betul niatku .
“Mas tunggu sebentar ya, si Nani lagi mandi, katanya.
Kami mengobrol macam-macam sampai aku tahu bahwa Bu Karta ini juga janda dengan 2 anak. Anak yang pertama laki-laki sekarang kerja di Jakarta.. Jadi mereka hanya tinggal berdua.
“Masnya jadikan menginap di sini,” tanya Bu Karta.
“ Kalau ibu boleh, ya saya mau,” kataku.
“Ya boleh lah mas, hotel dari sini jauh, tapi disini rumah kampung, nggak ada listrik, rumahnya juga jelek, nggak kayak rumah di Jakarta, gedongan semua,” katanya merendah.
Heri memberi kode agar aku ikuti dia. Heri membrief aku , bahwa semuanya oke dan ada juga uang keamanan. Dia mau pamit, dan aku minta dia datang lagi besok jam 10 pagi.
Heri kemudian pamit kepada mak nya Nani dan segera ngacir.
Perutku sudah rada kroncongan karena sekarang udah jam 1 siang. Kutarik 5 lembar uang 20 ribuan dan kuserahkan ke Bu Karta. “ Ini bu untuk beli makanan, siang ini ibu beli indomi bangsa 5 bungkus, minyak goreng dan kalau ada sedikit tepung sagu (kanji), lainnya beliin tempe dan cabe rawit ijo juga bawang putih.
Ibunya masuk ke dalam rumah sebentar dan keluar lagi membawa secangkir kopi. Tak lama kemudian datang belanjaan. Rupanya Bu karta minta tetangganya untuk belanja , pantesan dia gak beranjak dari tadi.
“Mas tepung sagunya mau dibuat apa ya,” katanya.
“Mau buat mi bu,” kata ku.
“ Ah jangan panggil bu ah, panggil mbak aja, kayaknya kok jadi tua banget ,” katanya sambil matanya genit..
“Boleh saya masak mi nya di dapur bu,”
“Eh masnya pinter masa yaa, tapi dapurnya jelek dan kotor” katanya lalu membibimbingku ke bagian belakang rumahnya.
Aku berpapasan dengan Nani yang berbalut handuk masuk dari belakang rumah. Dia malu-malu menundukkan muka , langsung masuk kamar.
Aku meminta 3 bungkus indomi untuk digoreng .
“Sini mas kita saja yang goreng,” kata bu karta. Orang di Indramayu ini menyebut kita untuk aku.
Setelah mi di goreng aku minta dia merebus air dan pinjem mangkuk untuk mencampur air dengan tepung sagu . “ Segini cukup gak mas airnya.
“Kurangi dikit mbak.”
Setelah air menggelegak aku masukkan air campuran dengan kanji dan bumbu mi instannya. Setelah mendidih dan kuah agak mengental kuminta dipindahkan ke tempat lain. Sekarang makanannya sudah siap.
Mas kita cuma punya nasi ama ikan asin. Lalu kami pun mengelilingi meja makan yang posisinya ditempelkan ke tembok dengan 4 kursi. Aku duduk di tengah, disamping ku Nani, dan di kiriku Bu karta.
“Wah enak mi-nya mas, masnya pinter masak juga ya,”
” Ini namanya ifumi, tapi sebenarnya bumbunya lebih lengkap dari ini ada sayur, ada bakso, baso ikan, dan udang segala, tapi karena adanya ini ya begini aja lah,” kata ku . “Enak ya mak, kita jadi pengin nambah mi nya lagi,” kata Nani yang makan sambil duduk kakinya diangkat satu (metingkrang).
“Mas itu ada tempe mau diapain, biar kita yang ngerjain,” kata mak Karta.
“Digoreng aja biasa mbak,” kata ku.
Dia lalu menghilang ke belakang tinggal aku dan Nani di ruang yang rada gelap. Kami ngobrol dan aku mengorek banyak informasi. Katanya dia sudah ditawari kerja ke Jakarta, Tapi maknya belum ngasih karena sendirian di rumah.
Gak terasa sudah jam 4 sore, cuaca mulai teduh.
“ E mas-e mau mandi kan, ayu bareng kita ke belakang saya unjukin tempatnya.” kata mak Karta.
Aku segera mengorek isi tas ku mengambil sabun cair, handuk dan celana pendek serta kaus oblong, juga sikat gigi.
Maknya Nani juga kelihatannya bawa perlengkapan mandi nani juga . mereka masing masing menjinjing ember kecil. Mereka mau mandi juga nampaknya.
Kami sampai di halaman belakang yang jaraknya sekitar 10 m dari rumah ditengh kebun singkong. Di situ hanya ada ponpa tangan dan ember yang lebar. Tidak ada dinding, sehingga sama sekali terbuka. Aku melihat ke sekeliling, tidak ada bangunan apa pun . Ternyata kamar mandinya ya di pompa itu. Di situ hanya ada dua tonggak yang dihubungkan dengan kawat. Maksudnya mungkin untuk jemuran. Mereka berdua lalu melampirkan handuk, dan baju-baju mereka.
Kulihat mereka gak bawa sarung, aku jadi mikir nih mereka mandinya gimana. Aku diam aja sambil pura-pura terlihat biasa sambil menyampirkan baju-bajuku dan membuka semua pakaianku kecuali celanda dalam yang memang bentuknya boxer.
Si mak giat sekali memompa. Aku segera mengambil alih memompa . Astaga mereka berdua membuka semua bajunya sampai telanjang bulat di depan ku lalu jongkok di pinggir ember. Dengan gayung bekas kaleng susu mereka membasahi semua badannya lalu menyabuni tubuhnya Aku terus memompa sambil pura-pura cuek, padahal dedeku mulai mengembang.
“ Udah itu mas air juga udah penuh masnya juga mandi sini, kata si mak,”
Aku tidak mau kalah dengan aksi mereka, Aku berbalik dan segera melepaskan celana dalam, dan kugantungkan dengan bajuku. Kututup burungku lalu aku jongkok berhadapan dengan mereka. Pembatas kami hanya ember.
“Wah masnya gak biasa mandi di kampung jadi masih malu ya mas,” kata Mak karta.
Aku hanya nyengir, “Ah nggak mbak, Cuma burungku susah diatur,” kataku berkilah.
Mas nya gak biasa sih jadi burungnya kaget kali, “ kata bu Karta.
Ibu nya si Nani ini tampak makin cantik ketika semua rambutnya dibasahi. Toketnya cukup montok mungkin ukuran 38 , perutnya agak gendut sedikit, tapi masih bisa digolongkan ramping untuk seumuran dia, pantanya buset gede banget, begitu juga pahanya. Badannya putih mulus pula.
Nani badan gadis remaja Teteknya masih mancung menantang dengan putting kecil yang belum berkembang, jembutnya masih jarang sekali, berbeda sama jembut ibunya.
Karena mereka cuek, aku juga cuek aja, meski pun barangku ngacung terus. Ah normal aja pikir ku, laki-laki dekat perempuan telanjang pula pastilah on. Gitu dong mas jangan malu-malu, Komentar ibunya sambil dia mengambil semacam sabut untuk menggosokkan badannya. Aku diberinya satu sabut yang kuperhatikan bentukunya bulat panjang seperti gambas atau oyong. Aku tenang saja menggosok badan ku sambil berdiri dan mereka berdua juga akhirnya berdiri sih. Mas sini aku gosok punggungnya dan mas gosok punggunya Nani. Kami pun lalu berbaris saling menggosok. Mulanya aku menggosok punggung Nani, Tapi lama-lama tangan ku gak tertahan meremas pula tetek si Nani. Tapi dia diem aja. Si Ibu masih terus menggosok, tapi tidak hanya punggung juga sampai ke kaki-kaki pula Eh lama-lama naik sampai ke dekat dede ku. Di bagian vital itu disabuninya pula tapi gak pake sabut. Aku jadi menggelinjang gak karuan. Eh dia malah lama sekali berputar-putar menyabuni dedeku. Aku jadi gelap mata kutarik si Nani lalu kucium. Nani membalas. Aku udah kehilangan akal, sampai gak terasa kalau dedeku dibasuh air. Tapi aduh ternyata burungku dilomot sama si ibu. Buset kok jadi orgi di kebun singkong gini.
Aku tidak bertahan lama segera muncrat di dalam mulut si ibu. Dia buang air mani ku . Aku segera menempelkan barang ku ke pantat si nani yang kupeluk dari belakang sementera tanganku sudah dari tadi mengorek-korek itil si Nani sampai dia muncak juga nampaknya. Aku kemudian berbalik ke si emak dan kurangkul dia lalu kucium mulutnya. Dia membalas dengan ganas. Tangan ku tak hanya meremas teteknya yang super toge, tapi juga mulai mengelus-elus mekinya.. Aku mau balas dendam. Perlahan-lahan kujilati tubuhnya kebawah sampai akhirnya aku berlutut dan di depanku terpampang memek berjembut lebat. Lidahky mencari sendiri belahan memek sambil tanganku menyibak hutan rimba. Memeknya tidak ada baunya, malah cenderung bau sabun. Mulutku kubekap ke memeknya dan kaki kirinya kupanggul dipundakku.Si emak berpegangan ke tiang sambil mendesis-desis. Gak sampai 2 menit dia sudah muncak dan sambil mengerang. Barangku jadi keras lagi aku segera berdiri dan kusuruh si emak membungkuk dengan sekali tusuk masuklah si dede ke meki emaknya dari belakang .
Aku sungguh terpesona dengan pemandangan pantat yang demikian besar membulat aku tabrak-tabakkan badan ku ke pantat si emak dan si emak mengimbanginya dengan mendesis-desis. Nani yang jongkok sambil mengguyur badannya memperhatikan kelakuan kami. Kupanggil dia agar mendekat. Nani menurut lalu aku sambil memompa emaknya aku gerayangi badannya. Sekitar 5 menit si emak sudah bilang “ udah-udahmas ampun mas saya lemes banget,” katanya setelah dia meregang puncak orgasme.
Sementara aku masih nanggung.Kini nani ku minta nungging dan segera dedeku kuarahkan ke memeknya dari belakang . Beda banget memek sianak dengan si Mak, Si Emak tadi mudah sekali mencoblosnya. Kalau sianak pake rada dituntun baru bisa pelan-pelan masuk. Aku kembali memompa dan karena ketatnya liang nani aku tidak mampu bertahan lama baru sekitar 5 menit aku sudah merasa akan meledakkan lahar. Kucabut dari meki si Nani lalu ku tembakkan ke udara bebas.
Si emak lagi di duduk dilantai lemes. “Si emas jago banget maennya,” kata emak.
Kami lalu menuntaskan mandi dan segera kemlai ke rumah. Kami jadi makin akrab dan aku segera dibawanya masuk ke ruang tidur. Kamar tidur itu adalah satu-satunya kamar tidur di rumah itu. Di situ terbentang 2 kasur yang didempetkan namun dengan dua sprei yang berbeda corak. Aku disuruhnya istirahat tiduran. Dan mereka berdua juga ikut tidur mengapit aku.
Si emak ini agresif sekali. Kalau bicara sebentar-sebentar nyium pipiku. “Aku gemes sama si emas abis cakep sih,” katanya.
Karena matahari masih mencorong dan kami di dalam kamar yang tidak berventilasi, dengan birahi tinggi maka badanku cepat sekali berkuah alias berkeringat. “Panas banget boleh gak kita buka baju, “ kata ku menyebut diriku dengan kita menyesuaikan bahasa mereka.
Tanpa menunggu jawaban dari mereka aku segera bangkit dan melepas tidak hanya baju tetapi semua busana ku sampai aku telanjang bulat. “ Kok dibuka semuanya,” kata si Nani.
“Abis panas, lagian kan tadi udah pada liat di sumur, jadi malunya udah ilang,” kata ku.
“Idih,” kata Nani.
Aku kembali mengambil posisi di antara mereka dan diam saja tidak bereaksi. Si emak langsung meremas tol ku sambil menciumi pipiku. Kelihatannya dia menginstruksikan anaknya untuk juga menciumiku dari sisi lain. Nani gerakannya masih canggung, tapi aku diam saja. Emaknya bangkit sambil duduk mengintrusikan anaknya untuk menciumi seluruh badan ku.
Aku protes agar mereka juga telanjang sehingga kita bertiga sama posisinya. Emaknya lalu berdiri membuka semua bajunya dan dia juga menyuruh anaknya untuk membuka semua bajunya juga..
Si emak kembali mengajari anaknya bagaimana caranya menyenangkan laki-laki, sampai akhirnya anaknya disuruh ngemut tool-ku. “ Jangan sampai kena giginya, nanti masnya ngrasa sakit. Mulanya si Nani agak ragu. Tapi kemudian ibunya memberi contoh dengan cara mempraktekkannya langsung lengkap menjilat kedua kantong zakarku sampai ke lubang matahari
Aku yang menjadi bahan praktikum, mengelinjang-gelinjang nikmat. Nani tampaknya berbakat, karena dalam waktu relatif singkat dia sudah menguasi ilmu oral-mengoral. Setelah sekitar 10 menit kutarik tubuhnya ke atas lalu kusuruh dia duduk di dadaku kusuruh maju sedikit sampai mekinya tepat jangkauan lidahku. Kukuak memeknya yang masih gundul dan baru berambut sedikit. Benjolan kecil nampak menonjol di ujung atas bibir dalamnya. Itu tanda dia sudah cukup terangsang, Segera lidahku menggapai clitoris sambil kedua tanganku menahan pinggulnya yang kalau kulepas gerakannya terlalu liar. Nani mendesis sambil mengerang.
Dia kelihatannya lebih rame dari pada ibunya. Ibunya yang dari tadi duduk saja memperhatikan permainan kami tiba-tiba bangkit. Aku tidak bisa jelas melihatnya, tapi aku merasa dia duduk mengangkangi badanku sambil menuntun tool ku yang lagi siaga ke dalam mekinya. Blebesss, masuk semua barang ku kedalam mekinya dan dia segera memaju mundurkan pinggulnya. . Toolku seperti diulek atau dikacau (stir). Kosentrasiku jadi terbelah. Tapi aku berusaha memuatkan serangan lidahku secara konstan di ujung clitoris si Nani. Nani makin hot terlihat dari gerakannya yang melawan tahanan tanganku.
Aku semakin keras menahan pinggul nani agar dia tidak menggelinjang terlalu liar. Akhirnya Nani sampai dan dia menjerit. Aku lalu membenamkan mulutku di meki nani. Ibunya nampaknya terpengaruh dengan teriakan Nani sehingga dia pun lalu mempercepat gerakkannya dan semakin liar sampai akhirnya dia juga berhenti dengan liang vaginanya berkedut. Dia memeluk anaknya .
Keduanya aku minta tidur telentang untuk istirahat. Aku mengambil alih dengan mencolokkan jari tengah kanan ke Nani dan jari tengah kiri ke emaknya. Aku meraba titik G spot mereka. Keduanya akhirnya teraba. Lalu ku usap halus. Mereka mulai bereaksi dan pinggulnya di gerakkan gak beraturan, kadang maju mundur kadang kiri-kanan, sampai tiba-tiba Nani teriak sekencang-kencangnya gak sampai semenit Emaknya juga ikut teriak panjang..
Mereka berdua seperti orang tak berdaya lemas dan pasrah. Aku segera mengambil alih untuk memuaskan diriku. Pertama kupilih meki emaknya, kugenjot sampai sekitar 10 menit, kemudian aku pindah ke nani dan kugenjot terus sampai akhirnya aku memuntahkan lahar putih jauh di dalam meki si Nany.
Kami tertidur bertiga dalam keadaan bugil..
Aku tidak sadar berapa lama tertidur sampai kudengar suara samar-samar emak si nani bangun .dia mencari lampu untuk dihidupkan, karena seisi rumah itu gelap gulita. Lampu yang dinyalakan adalah lampu minyak. Aku pun lalu bangun dan akhirnya kami bertiga dengan obor menuju ke sumur untuk membersihkan diri.
Aku merasa kayak punya dua istri dua di kampung ini. Tapi uniknya kedua istri itu anak dan ibu. Keduanya berlaku manja sekali dan sering menggelendot..
“Mas tempenya udah digoreng, mau dimasak apaan” kata si emak.
:”Diulek pake 1 siung besar bawang putih dan cabe rawit ijo, tapi cabe dan bawangnya diulek dulu sama garam, jangan terlalu alus baru tempenya di teken-teken ke sambelnya,” kata ku.
Dengan lauk tempe itu kami bertiga makan malam dengan lahapnya. “Enak banget ya padahal Cuma gitu aja bikinnya, “ kata si emak.
Selesai makan kami duduk di beranda rumahnya sambil aku dibuatkan kopi dan singkong rebus. Kami ngobrol sampai sjam 11 malam. Lalu kembali masuk rumah dan menutup pintu. Kami bertiga kembali berbaring dan aku selalu ditempatkan diantara mereka berdua.
Kami malam itu bertempur lagi sampai jam 2. Sampai akhirnya bangun agak kesiangan . Jam 7 baru kami terjaga dari tidur nyenak. Lalu kami buru-buru berkemas dan kembali ke sumur untuk membersihkan diri. Di sumur tidak terjadi insiden.
Jam 10 si Heri datang untuk menjemput aku. Si emak minta agar aku memperpanjang waktu dan minta Heri datang besok lagi.

menang taru


Aku seorang mahasiswa, Riki namaku. Sejak awal kuliah aku kost di daerah Pahlawan Bandung, dan aku serumah dengan enam orang cowok yang kebetulan semuanya adalah mahasiswa. Aku tidak terlalu cakep, tampangku standar dengan bodi yang tidak terlalu besar, kesimpulan aku ini orangnya biasa-biasa saja. Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik dengan sesama jenis, tapi sejak ada anak baru itu ada perasaan aneh dalam hatiku.
Oki nama anak itu, sudah dua bulan dia kost di tempat ini, dan sekarang dia masih SMU kelas I usianya kurang lebih 15 tahunan dan ingin mencoba hidup mandiri di Bandung, asalnya sendiri dari Lampung. Anaknya cukup ganteng dan gagah. Dia anaknya cepat akrab dan suka bercanda. Pernah waktu aku sedang minum aku diganggunya sampai tersedak, dan dia cuma tertawa sambil melarikan diri. Pernah juga waktu dia baru selesai mandi dan hanya mengenakan handuk, handuknya aku tarik dan saat itulah pertama kali aku melihatnya telanjang bulat. Secara refleks aku melihat ke batang kemaluannya dan jantungku berdegup sangat kencang, terutama setelah melihat batang kemaluannya yang lebih besar dari punyaku dan tanpa aku sadari dia lalu merebut handuk yang aku pegang dan aku pun segera lari sebelum kena tinjunya sambil tertawa.
Sejak saat itu perasaanku tidak karuan, aku sering membuka situs-situs khusus homo dan aku mulai sulit melupakan dirinya, terutama saat dia telanjang batang kemaluanku pasti langsung tegang dan pasti setelah itu aku langsung onani sambil terus membayangkannya. Seperti biasa kalau musim liburan semester anak-anak kost-an pada mudik, kecuali aku dan Adi karena kebetulan kami berdua sama-sama seret alias bokek belum dapat kiriman. Sedangkan Oki masih belum libur maklum dia kan anak SMA. Dan untuk menghilangkan kebosanan kami bertiga nonton VCD (tapi kalau ada Oki kami nggak nonton VCD porno, soalnya dia itu masih lugu banget, bahaya!) dan kadang main remi. Karena kesibukan inilah aku sedikit melupakan hasratku pada Oki.
Tapi belakangan ini, setelah Adi pulang karena ibunya mendadak sakit dan dia dijemput kakaknya, tinggal aku dan Oki di kost-an. Perasaan aneh itu mulai lagi, aku sulit membendungnya, rasanya aku sangat ingin sekali melumat batang kemaluannya itu sepuasnya, terlebih lagi si Oki sering tidur di kamarku soalnya di kamar atas dia nggak ada temen, sepi katanya. “Ah aku suntuk banget nih Mas, bosen nggak ada kerjaan mau pulang nanggung, bentar lagi masuk, nonton CD bosen filmnya itu-itu lagi, jalan-jalan belon dapet kiriman.”
Aku cuma tertawa mendengarnya, tapi kemudian timpul pikiranku untuk dapat menyalurkan keinginanku.
“Maen remi saja yuk! tapi ada taruhannya.”
“Beeu tarohan, duit saja pas-pasan buat makan ini diajak tarohan, mending kalau menang, kalau kalah puasa deh aku.”
“Tenang Ki tarohannya bukan uang tapi siapa yang kalah harus buka bajunya sampai telanjang, mumpung nggak ada orang di rumah, gimana berani nggak?”
Oki kelihatannya sedikit terkejut tapi dia juga tertarik.
“Boleh juga tuh Mas, terus kalau udah telanjang udahan saja ya Mas?”
“Ya nggak lah, apaan yang enak ya.”
“Eh nyuciin baju yang menang saja Mas sekalian traktir makan.”
“Ah nggak seru, ngapain pake acara telanjang kalau cuman gitu, mmm gimana kalau yang kalah harus ngejilatin batang kemaluannya yang menang biar seru?”
“Haa gila Mas jorok banget!”
“Ya resiko namanya juga tarohan harus mau apapun juga dong. Mau nggak kalau nggak ya udah.”
Oki cuman diam, dan kemudian aku pun pura-pura nggak ambil pusing dan sibuk membereskan tugas-tugasku. Cukup lama Oki cuma diam, selang waktu kemudian, “Maen remi saja yuk Mas, suntuk nih bolehlah tarohan yang kayak tadi dari pada nggak ada kerjaan, lagian cuman ngejilat batang kemaluan ini dan nggak ada masalah.” Dalam hatiku bersorak senang, tapi aku pura-pura males dan nggak ambil pusing. Aku lihat Oki sudah mengambil kartu remi di laci lemariku dan duduk di karpet kamarku. Aku pun mendekatinya dengan jantung yang terus berdegup kencang.
“Bagiin saja Ki, kita liat siapa yang bakalan jadi penjilat batang kemaluan he… he… he…”
“OK siapa takut.”
Permainan pun dimulai, karena cuma kami berdua aku tidak terlalu sulit memegang kendali permainan, sehingga aku dengan mudah menang atau kalah, soalnya remi adalah keahlianku. Setelah beberapa kali main, sekarang aku tinggal pakai celana dalam dan Oki masih tersisa celana pendeknya saja. Dan seperti sebelumnya kali ini pun aku pura-pura kalah sehingga aku harus melepas celana dalamku.
“Wah Mas batang kemaluanmu kecil ya Mas kayak jempolku saja.”
“Biarin yang penting masih bisa bikin anak ukuran bukan masalah.”
Memang batang kemaluanku tergolong kecil panjangnya kalau lagi tegang cuma 9 cm dan dengan diameter 3 cm, aku pun tidak PD dengan ukuran penisku tapi ah bodo amat batang kemaluanku ini. Aku melihat Oki cuma tertawa meledek tapi aku merasa senang saat dia memperhatikan aku saat aku telanjang.
“Wah Mas, jangan-jangan nggak jadi nih acara jilat batang kemaluannya.”
“Tenang Ki, aku pantang menelan ludah sendiri, tapi jangang seneng dulu aku belum mengeluarkan jurus pamungkasku.”
Dan kami pun melanjutkan permainan, sampai akhirnya Oki kalah dan harus melepaskan CD-nya. Saat dia membuka celana dalamnya, batang kemaluanku langsung berdiri, tapi langsung aku tutupi dengan kedua kakiku sambil berpura-pura tertawa meledek.
“Wah Ki, batang kemaluanmu gede juga ya dua kalinya punya aku.”
“Eh siapa dulu dong kan disesuaikan bodinya, tapi sialan satu sama sekarang, tapi kita liat saja siapa yang bakalan kalah sekarang Oki atau Mas Riki.”
Oki lalu membagikan kartu dan kami melanjutkan permainan lagi. Tapi tidak seperti biasanya aku pura-pura mengalah, sekarang aku benar-benar kalah karena kartu yang aku punya benar-benar hancur dan akhirnya aku kalah, walaupun sebenarnya itu yang aku inginkan.
“Wah sialan kartuku rusak ancur nih aku dasar licik kamu, wah aku harus ngejilat batang kemaluan kamu mana pasti bau lagi.”
“He… he… he… resiko Mas lagian kan cuman ngejilat saja bukannya mencium baunya seperti yang Mas bilang.”
“Sialan kamu Ki, udah sini aku jilat batang kemaluan mu yang gede itu.”
Oki kelihatanya sedikit ragu-ragu.
“Sekali saja ya Ki ngejilatnya, aku takut muntah,” pura-pura aku mengalihkan perhatiannya, supaya dia tidak terlalu tegang.
“Sini batang kemaluan kamu.”
Oki cuma tertawa, lalu aku membuka kakinya yang dia lipat dan aku luruskan. Aku sesaat menikmati pemandangan yang selama ini aku harapkan dan meresapi aroma di sekitar batang kemaluannya si Oki. Aku pura-pura melihat ke arah Oki dia cuman mesem tapi juga sedikit ragu, “Susah ki kalau gini kasih aku ruang dong,” lalu aku suruh Oki bersandar dan kedua tangannya menopang badannya kebelakang sambil terus memperhatikanku, tibalah kesempatanku. Aku pegang batang kemaluannya dan bukannya menjilat batang kemaluannya si Oki tapi langsung melumatnya ke dalam mulutku, si Oki terkejut, “Eh Mas mau diapain?” sambil tangannya memegang kepalaku dan menjambak rambutku.
Aku nggak peduli, aku terus mengulum batang kemaluannya walau kepalaku sakit dijambaknya, tapi kemudian tangannya mulai mengendur dan dia mulai menikmatinya. Batang kemaluannya aku rasakan mulai tambah besar cepat sekali tegangnya rupanya dia mulai terangsang, batang kemaluannya yang semula masuk semua ke mulutku sekarang cuma separuhnya saja. Aku terus mengulumnya sambil tanganku mengocok batang batang kemaluannya. Sesekali aku melihat ke arah Oki tangannya tetap menopang badanya dan kepalanya mendongkak ke atas, matanya terpejam dan aku hanya mendengar rintihannya, “Ehhhh… sss.. ahhh… Mas… ahhh…” pantatnya ikut bergerak-gerak mengikuti kulumanku. Aku terus mengulumnya, kadang aku kulum zakarnya, kemudian aku kulum dan sesekali aku sedot kepala penisnya. Rasanya sedikit asin, tapi hal ini justru menambah semangatku. Oki mengelinjang saat aku menjilati lubang batang kemaluannya, “Ahh… Mas aduh sshh… terus Mas ahh…” Aku mengulum batang kemaluannya sambil terus memperhatikan wajahnya yang mulai memerah dan sesekali tersenyum kepadaku. Oki kadang melihatku dan kadang memejamkan matanya menikmati kuluman dan sedotanku. Kadang aku menggigit pelan batang kemaluannya dan membuatnya semakin mendesah.
Aku terus mengulum dan menyedot batang kemaluannya, kadang aku sedot dengan kuat dan kadang aku hanya mengusapnya perlahan dengan bibirku. batang kemaluannya sudah basah oleh air liurku yang menetes pada batang batang kemaluannya. Aku mengulum, menyedot, menggigit pelan seperti sedang menulum permen coklat kesukaanku. Sambil tengkurap aku terus mengulum batang kemaluannya. Kaki Oki mulai bergerak-gerak dan aku merasakan pahanya juga sedikit menegang pantatnya bergerak mengikuti sedotan mulutku, penisnya juga bertambah panas dan kepala penisnya mulai membesar, “Ehh… Mas… aduh.. Mas… enggkh…” Oki mendesah, kepalanya mendongkak ke atas, mulutnya terbuka mengeluarkan erangan nikmat dan matanya terpejam meresapi kenikmatan yang dia rasakan. Aku merasakan kepala batang kemaluannya bertambah besar dan berdenyut-denyut, terus aku sedot kepala batang kemaluannya dan tanganku mengocok batangnya, dan aku hampir saja tersedak saat pantat Oki naik menerobos mulutku dan masuk ke kerongkonganku. Dan kemudian kurasakan ada sesuatu yang panas menyembur berkali-kali di kerongkonganku dan memenuhi mulutku, rasanya amis, kenyal dan sedikit asin tapi sungguh nikmat sekali, dan semuanya kau coba telan walaupun sebagian keluar dari mulutku dan mengenai batang batang kemaluannya Oki.
Rasanya luar biasa merasakan semburannya di mulutku sekaligus melihat wajah Oki yang diterjang rasa nikmat yang luar biasa. Aku masih terus menjilati dan mengulum batang kemaluannya, membersihkan sisa-sisa mani dari batang kemaluannya. “Udah Mas geli ahh…” kemudian Oki bersandar pada tembok kamarku, dan aku tetap tengkurap melihat sisa-sisa kenikmatan dari wajah Oki selain itu mulutku juga sedikit pegal cape mengulum dan menyedot batang kemaluan Oki yang besar itu.
“Wah Mas, baru sekarang aku ngerasain yang seenak ini.”
“Emangnya kamu belum pernah mimpi basah Ki?”
“Mimpi basah, ngompol maksud Mas Riki, kan Oki udah gede Mas masa sih ngompol, tapi waktu kelas tiga aku pernah tidur dan celanaku basah tapi nggak bau pesing Mas, sekarang kadang juga masih suka gitu.”
“Ya itu yang namanya mimpi basah masa sih nggak ada yang ngasih tau, berarti belum pernah onani dong?”
Oki kelihatannya bingung.
“Wah payah nih anak kampung, yang tadi kita lakuin itu namanya oral sex, ada juga anal sex itu melalui dubur dan kalau dari vagina itu yang paling umum dan kalau onani itu main sendiri gitu bego!”
Oki cuman tertawa, kemudian dia mendekatiku.
“Mas aku mau nyobain dong yang kayak tadi,” biar adil gitu.
“Mau ngejilatin batang kemaluanku boleh saja bukannya harus aku kalahin dulu nih.”
“Ah Mas ini, sekarang bukan waktunya main kartu.”
Dan kemudian Oki mulai mengulum batang kemaluanku, aku cuma bisa mengerang sambil pantatku mengikuti isapan mulut Oki, kadang giginya mengenai batang kemaluanku sedikit sakit tapi enak, sampai akhirnya aku menyemburkan maniku di mulutnya, Oki cuma tersenyum kemudian dia tidur disampingku. Kami baru bangun waktu hampri jam delapan malam, lalu kami bangun karena perut kami lapar kami masak mie dan makan sambil masih telanjang mumpung lagi nggak ada orang.
“Eh Ki gimana kalau kita nyobain anal sex, tadi oral udah sekarang kita coba yang baru rasanya nggak kalah deh.”
“Emangnya kayak gimana sih, emangnya bisa masuk kan dubur kecil lubangnya nggak kayak mulut?”
Aku lalu berdiri dan mengambil sabun cair yang biasa aku gunakan untuk onani, sambil duduk di meja makan, kemudian dan duburku aku olesi dengan sabun sambil jari tanganku kumasukan. Oki hanya melihatku dan batang kemaluannya sudah mulai tegang lagi. Aku coba memasukan dua jariku dan aku putar-putar, rasanya enak sekali. Setelah bisa masuk tiga jari lalu aku mengoleskan sabun tersebut ke batang kemaluan Oki, dan aku menyuruhnya memasukkan batang kemaluannya ke duburku. Oki mencoba memasukannya ke dalam duburku. Agak perih dan sakit, rasanya ada sesuatu yang mendorong masuk ke dalam usus besarku. Oki sedikit meringis mungkin perih dan sedikit seret, dia mulai ragu-ragu mungkin melihat aku merasa kesakitan tapi kemudian aku dorong dengan paksa pantatnya sakit tapi aku merasakan nikmat saat semua batang kemaluannya masuk ke dalam duburku panas dan usus duburku terasa penuh oleh batang kemaluannya, Oki mendesah kemudian terdiam tidak tahu harus bagaimana.
Setelah aku merasa sedikit terbiasa aku suruh Oki menggerakkan pantatnya maju mundur, batang kemaluanku sendiri sudah ikut tegang dari tadi. Oki menggerakkan pantatnya maju mundur sambil mengerang nikmat,
“Terus Ki ahh… enak sekali dorong yang keras Ki ahhh… sshh… ahhh Oki.. ahh…”
“Mas enak sekali Mas akh… Oki mau keluar nih Mas…”
Gerakan Oki bertambah cepat dan aku pun merasakan nikmat yang luar biasa, dan sepertinya ada sesuatu yang mendesak keluar dari batang kemaluanku,
“Ahh.. Mas Oki kelu.. akhhh..”
Aku merasakan nikmat yang berlipat ganda dari duburku yang kurasakan ada semburan panas menyembur ke usus besarku.
Kemudian Oki masuk ke kamarku dan laluu menjatuhkan dirinya ke tempat tidurku, aku mendekatinya dan mengoleskan sabun cair ke duburnya dan juga ke batang kemaluanku. “Ki giliran aku ya”, Oki cuma tersenyum. Kemudian aku langsung mencoba memasukkannya ke dalam duburnya, sedikit seret, lalu suruh oki mengangkat kakinya dan memegang bawah lututnya. Aku tambahkan sabun cair ke duburnya sambil kedua tanganku masuk, kemudian aku mencoba memasukkan batang kemaluanku lagi, seret dan perih yang pertama aku rasakan tapi aku tetap penasaran dan dengan sekali sentakan aku masukan batang kemaluanku ke duburnya, “akhh…” aku dan Oki mengerang bersamaan sakit tapi enak. Aku menindih tubuh Oki dan bertopang pada ke dua tanganku sambil pantatku bergerak naik turun menghujam duburnya Oki. Gerakanku aku percepat saat batang kemaluanku mau meledak dan aku hujamkan batang kemaluanku sedalam mungkin di dubur Oki, “Engkhh… aaakkhh…” batang kemaluanku menyemburkan maninya ke dalam dubur Oki dan kurasakan bagian pusarku juga ada cairan kental yang menyembur, ternyata Oki menyemburkan maninya lagi.
Aku menjatuhkan tubuhku di atas tubuh Oki dan setelah kurasakan semua kenikmatan itu sudah mulai hilang dan batang kemaluanku mengecil lagi aku cabut batang kemaluanku, kemudian aku menjilati sisa-sisa mani di perut dan batang kemaluannya bau tapi nikmat, begitu juga Oki menjilati batang kemaluanku sampai beris. Kemudian aku berbaring di samping Oki, dan kami pun tertidur karena kelelahan. Kami bangun kesiangan, dan akhirnya Oki membolos kuliah dan aku menelepon ke sekolahnya kalau Oki sedang sakit. Kemudian kami mandi bersama-sama, di kamar mandi aku mengajarinya melakukan onani. Sejak saat itu kami sering melakukannya baik onani dan oral sex dengan berbagai variasi. Tapi anal sex kami merupakan yang pertama dan terakhir soalnya aku nggak mau ambil resiko dengannya, lagi pula menurutku lebih enak melakukan onani dan oral sex lebih aman dan lebih bersih.

Menang Taruhan


Aku seorang mahasiswa, Riki namaku. Sejak awal kuliah aku kost di daerah Pahlawan Bandung, dan aku serumah dengan enam orang cowok yang kebetulan semuanya adalah mahasiswa. Aku tidak terlalu cakep, tampangku standar dengan bodi yang tidak terlalu besar, kesimpulan aku ini orangnya biasa-biasa saja. Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik dengan sesama jenis, tapi sejak ada anak baru itu ada perasaan aneh dalam hatiku.
Oki nama anak itu, sudah dua bulan dia kost di tempat ini, dan sekarang dia masih SMU kelas I usianya kurang lebih 15 tahunan dan ingin mencoba hidup mandiri di Bandung, asalnya sendiri dari Lampung. Anaknya cukup ganteng dan gagah. Dia anaknya cepat akrab dan suka bercanda. Pernah waktu aku sedang minum aku diganggunya sampai tersedak, dan dia cuma tertawa sambil melarikan diri. Pernah juga waktu dia baru selesai mandi dan hanya mengenakan handuk, handuknya aku tarik dan saat itulah pertama kali aku melihatnya telanjang bulat. Secara refleks aku melihat ke batang kemaluannya dan jantungku berdegup sangat kencang, terutama setelah melihat batang kemaluannya yang lebih besar dari punyaku dan tanpa aku sadari dia lalu merebut handuk yang aku pegang dan aku pun segera lari sebelum kena tinjunya sambil tertawa.
Sejak saat itu perasaanku tidak karuan, aku sering membuka situs-situs khusus homo dan aku mulai sulit melupakan dirinya, terutama saat dia telanjang batang kemaluanku pasti langsung tegang dan pasti setelah itu aku langsung onani sambil terus membayangkannya. Seperti biasa kalau musim liburan semester anak-anak kost-an pada mudik, kecuali aku dan Adi karena kebetulan kami berdua sama-sama seret alias bokek belum dapat kiriman. Sedangkan Oki masih belum libur maklum dia kan anak SMA. Dan untuk menghilangkan kebosanan kami bertiga nonton VCD (tapi kalau ada Oki kami nggak nonton VCD porno, soalnya dia itu masih lugu banget, bahaya!) dan kadang main remi. Karena kesibukan inilah aku sedikit melupakan hasratku pada Oki.
Tapi belakangan ini, setelah Adi pulang karena ibunya mendadak sakit dan dia dijemput kakaknya, tinggal aku dan Oki di kost-an. Perasaan aneh itu mulai lagi, aku sulit membendungnya, rasanya aku sangat ingin sekali melumat batang kemaluannya itu sepuasnya, terlebih lagi si Oki sering tidur di kamarku soalnya di kamar atas dia nggak ada temen, sepi katanya. “Ah aku suntuk banget nih Mas, bosen nggak ada kerjaan mau pulang nanggung, bentar lagi masuk, nonton CD bosen filmnya itu-itu lagi, jalan-jalan belon dapet kiriman.”
Aku cuma tertawa mendengarnya, tapi kemudian timpul pikiranku untuk dapat menyalurkan keinginanku.
“Maen remi saja yuk! tapi ada taruhannya.”
“Beeu tarohan, duit saja pas-pasan buat makan ini diajak tarohan, mending kalau menang, kalau kalah puasa deh aku.”
“Tenang Ki tarohannya bukan uang tapi siapa yang kalah harus buka bajunya sampai telanjang, mumpung nggak ada orang di rumah, gimana berani nggak?”
Oki kelihatannya sedikit terkejut tapi dia juga tertarik.
“Boleh juga tuh Mas, terus kalau udah telanjang udahan saja ya Mas?”
“Ya nggak lah, apaan yang enak ya.”
“Eh nyuciin baju yang menang saja Mas sekalian traktir makan.”
“Ah nggak seru, ngapain pake acara telanjang kalau cuman gitu, mmm gimana kalau yang kalah harus ngejilatin batang kemaluannya yang menang biar seru?”
“Haa gila Mas jorok banget!”
“Ya resiko namanya juga tarohan harus mau apapun juga dong. Mau nggak kalau nggak ya udah.”
Oki cuman diam, dan kemudian aku pun pura-pura nggak ambil pusing dan sibuk membereskan tugas-tugasku. Cukup lama Oki cuma diam, selang waktu kemudian, “Maen remi saja yuk Mas, suntuk nih bolehlah tarohan yang kayak tadi dari pada nggak ada kerjaan, lagian cuman ngejilat batang kemaluan ini dan nggak ada masalah.” Dalam hatiku bersorak senang, tapi aku pura-pura males dan nggak ambil pusing. Aku lihat Oki sudah mengambil kartu remi di laci lemariku dan duduk di karpet kamarku. Aku pun mendekatinya dengan jantung yang terus berdegup kencang.
“Bagiin saja Ki, kita liat siapa yang bakalan jadi penjilat batang kemaluan he… he… he…”
“OK siapa takut.”
Permainan pun dimulai, karena cuma kami berdua aku tidak terlalu sulit memegang kendali permainan, sehingga aku dengan mudah menang atau kalah, soalnya remi adalah keahlianku. Setelah beberapa kali main, sekarang aku tinggal pakai celana dalam dan Oki masih tersisa celana pendeknya saja. Dan seperti sebelumnya kali ini pun aku pura-pura kalah sehingga aku harus melepas celana dalamku.
“Wah Mas batang kemaluanmu kecil ya Mas kayak jempolku saja.”
“Biarin yang penting masih bisa bikin anak ukuran bukan masalah.”
Memang batang kemaluanku tergolong kecil panjangnya kalau lagi tegang cuma 9 cm dan dengan diameter 3 cm, aku pun tidak PD dengan ukuran penisku tapi ah bodo amat batang kemaluanku ini. Aku melihat Oki cuma tertawa meledek tapi aku merasa senang saat dia memperhatikan aku saat aku telanjang.
“Wah Mas, jangan-jangan nggak jadi nih acara jilat batang kemaluannya.”
“Tenang Ki, aku pantang menelan ludah sendiri, tapi jangang seneng dulu aku belum mengeluarkan jurus pamungkasku.”
Dan kami pun melanjutkan permainan, sampai akhirnya Oki kalah dan harus melepaskan CD-nya. Saat dia membuka celana dalamnya, batang kemaluanku langsung berdiri, tapi langsung aku tutupi dengan kedua kakiku sambil berpura-pura tertawa meledek.
“Wah Ki, batang kemaluanmu gede juga ya dua kalinya punya aku.”
“Eh siapa dulu dong kan disesuaikan bodinya, tapi sialan satu sama sekarang, tapi kita liat saja siapa yang bakalan kalah sekarang Oki atau Mas Riki.”
Oki lalu membagikan kartu dan kami melanjutkan permainan lagi. Tapi tidak seperti biasanya aku pura-pura mengalah, sekarang aku benar-benar kalah karena kartu yang aku punya benar-benar hancur dan akhirnya aku kalah, walaupun sebenarnya itu yang aku inginkan.
“Wah sialan kartuku rusak ancur nih aku dasar licik kamu, wah aku harus ngejilat batang kemaluan kamu mana pasti bau lagi.”
“He… he… he… resiko Mas lagian kan cuman ngejilat saja bukannya mencium baunya seperti yang Mas bilang.”
“Sialan kamu Ki, udah sini aku jilat batang kemaluan mu yang gede itu.”
Oki kelihatanya sedikit ragu-ragu.
“Sekali saja ya Ki ngejilatnya, aku takut muntah,” pura-pura aku mengalihkan perhatiannya, supaya dia tidak terlalu tegang.
“Sini batang kemaluan kamu.”
Oki cuma tertawa, lalu aku membuka kakinya yang dia lipat dan aku luruskan. Aku sesaat menikmati pemandangan yang selama ini aku harapkan dan meresapi aroma di sekitar batang kemaluannya si Oki. Aku pura-pura melihat ke arah Oki dia cuman mesem tapi juga sedikit ragu, “Susah ki kalau gini kasih aku ruang dong,” lalu aku suruh Oki bersandar dan kedua tangannya menopang badannya kebelakang sambil terus memperhatikanku, tibalah kesempatanku. Aku pegang batang kemaluannya dan bukannya menjilat batang kemaluannya si Oki tapi langsung melumatnya ke dalam mulutku, si Oki terkejut, “Eh Mas mau diapain?” sambil tangannya memegang kepalaku dan menjambak rambutku.
Aku nggak peduli, aku terus mengulum batang kemaluannya walau kepalaku sakit dijambaknya, tapi kemudian tangannya mulai mengendur dan dia mulai menikmatinya. Batang kemaluannya aku rasakan mulai tambah besar cepat sekali tegangnya rupanya dia mulai terangsang, batang kemaluannya yang semula masuk semua ke mulutku sekarang cuma separuhnya saja. Aku terus mengulumnya sambil tanganku mengocok batang batang kemaluannya. Sesekali aku melihat ke arah Oki tangannya tetap menopang badanya dan kepalanya mendongkak ke atas, matanya terpejam dan aku hanya mendengar rintihannya, “Ehhhh… sss.. ahhh… Mas… ahhh…” pantatnya ikut bergerak-gerak mengikuti kulumanku. Aku terus mengulumnya, kadang aku kulum zakarnya, kemudian aku kulum dan sesekali aku sedot kepala penisnya. Rasanya sedikit asin, tapi hal ini justru menambah semangatku. Oki mengelinjang saat aku menjilati lubang batang kemaluannya, “Ahh… Mas aduh sshh… terus Mas ahh…” Aku mengulum batang kemaluannya sambil terus memperhatikan wajahnya yang mulai memerah dan sesekali tersenyum kepadaku. Oki kadang melihatku dan kadang memejamkan matanya menikmati kuluman dan sedotanku. Kadang aku menggigit pelan batang kemaluannya dan membuatnya semakin mendesah.
Aku terus mengulum dan menyedot batang kemaluannya, kadang aku sedot dengan kuat dan kadang aku hanya mengusapnya perlahan dengan bibirku. batang kemaluannya sudah basah oleh air liurku yang menetes pada batang batang kemaluannya. Aku mengulum, menyedot, menggigit pelan seperti sedang menulum permen coklat kesukaanku. Sambil tengkurap aku terus mengulum batang kemaluannya. Kaki Oki mulai bergerak-gerak dan aku merasakan pahanya juga sedikit menegang pantatnya bergerak mengikuti sedotan mulutku, penisnya juga bertambah panas dan kepala penisnya mulai membesar, “Ehh… Mas… aduh.. Mas… enggkh…” Oki mendesah, kepalanya mendongkak ke atas, mulutnya terbuka mengeluarkan erangan nikmat dan matanya terpejam meresapi kenikmatan yang dia rasakan. Aku merasakan kepala batang kemaluannya bertambah besar dan berdenyut-denyut, terus aku sedot kepala batang kemaluannya dan tanganku mengocok batangnya, dan aku hampir saja tersedak saat pantat Oki naik menerobos mulutku dan masuk ke kerongkonganku. Dan kemudian kurasakan ada sesuatu yang panas menyembur berkali-kali di kerongkonganku dan memenuhi mulutku, rasanya amis, kenyal dan sedikit asin tapi sungguh nikmat sekali, dan semuanya kau coba telan walaupun sebagian keluar dari mulutku dan mengenai batang batang kemaluannya Oki.
Rasanya luar biasa merasakan semburannya di mulutku sekaligus melihat wajah Oki yang diterjang rasa nikmat yang luar biasa. Aku masih terus menjilati dan mengulum batang kemaluannya, membersihkan sisa-sisa mani dari batang kemaluannya. “Udah Mas geli ahh…” kemudian Oki bersandar pada tembok kamarku, dan aku tetap tengkurap melihat sisa-sisa kenikmatan dari wajah Oki selain itu mulutku juga sedikit pegal cape mengulum dan menyedot batang kemaluan Oki yang besar itu.
“Wah Mas, baru sekarang aku ngerasain yang seenak ini.”
“Emangnya kamu belum pernah mimpi basah Ki?”
“Mimpi basah, ngompol maksud Mas Riki, kan Oki udah gede Mas masa sih ngompol, tapi waktu kelas tiga aku pernah tidur dan celanaku basah tapi nggak bau pesing Mas, sekarang kadang juga masih suka gitu.”
“Ya itu yang namanya mimpi basah masa sih nggak ada yang ngasih tau, berarti belum pernah onani dong?”
Oki kelihatannya bingung.
“Wah payah nih anak kampung, yang tadi kita lakuin itu namanya oral sex, ada juga anal sex itu melalui dubur dan kalau dari vagina itu yang paling umum dan kalau onani itu main sendiri gitu bego!”
Oki cuman tertawa, kemudian dia mendekatiku.
“Mas aku mau nyobain dong yang kayak tadi,” biar adil gitu.
“Mau ngejilatin batang kemaluanku boleh saja bukannya harus aku kalahin dulu nih.”
“Ah Mas ini, sekarang bukan waktunya main kartu.”
Dan kemudian Oki mulai mengulum batang kemaluanku, aku cuma bisa mengerang sambil pantatku mengikuti isapan mulut Oki, kadang giginya mengenai batang kemaluanku sedikit sakit tapi enak, sampai akhirnya aku menyemburkan maniku di mulutnya, Oki cuma tersenyum kemudian dia tidur disampingku. Kami baru bangun waktu hampri jam delapan malam, lalu kami bangun karena perut kami lapar kami masak mie dan makan sambil masih telanjang mumpung lagi nggak ada orang.
“Eh Ki gimana kalau kita nyobain anal sex, tadi oral udah sekarang kita coba yang baru rasanya nggak kalah deh.”
“Emangnya kayak gimana sih, emangnya bisa masuk kan dubur kecil lubangnya nggak kayak mulut?”
Aku lalu berdiri dan mengambil sabun cair yang biasa aku gunakan untuk onani, sambil duduk di meja makan, kemudian dan duburku aku olesi dengan sabun sambil jari tanganku kumasukan. Oki hanya melihatku dan batang kemaluannya sudah mulai tegang lagi. Aku coba memasukan dua jariku dan aku putar-putar, rasanya enak sekali. Setelah bisa masuk tiga jari lalu aku mengoleskan sabun tersebut ke batang kemaluan Oki, dan aku menyuruhnya memasukkan batang kemaluannya ke duburku. Oki mencoba memasukannya ke dalam duburku. Agak perih dan sakit, rasanya ada sesuatu yang mendorong masuk ke dalam usus besarku. Oki sedikit meringis mungkin perih dan sedikit seret, dia mulai ragu-ragu mungkin melihat aku merasa kesakitan tapi kemudian aku dorong dengan paksa pantatnya sakit tapi aku merasakan nikmat saat semua batang kemaluannya masuk ke dalam duburku panas dan usus duburku terasa penuh oleh batang kemaluannya, Oki mendesah kemudian terdiam tidak tahu harus bagaimana.
Setelah aku merasa sedikit terbiasa aku suruh Oki menggerakkan pantatnya maju mundur, batang kemaluanku sendiri sudah ikut tegang dari tadi. Oki menggerakkan pantatnya maju mundur sambil mengerang nikmat,
“Terus Ki ahh… enak sekali dorong yang keras Ki ahhh… sshh… ahhh Oki.. ahh…”
“Mas enak sekali Mas akh… Oki mau keluar nih Mas…”
Gerakan Oki bertambah cepat dan aku pun merasakan nikmat yang luar biasa, dan sepertinya ada sesuatu yang mendesak keluar dari batang kemaluanku,
“Ahh.. Mas Oki kelu.. akhhh..”
Aku merasakan nikmat yang berlipat ganda dari duburku yang kurasakan ada semburan panas menyembur ke usus besarku.
Kemudian Oki masuk ke kamarku dan laluu menjatuhkan dirinya ke tempat tidurku, aku mendekatinya dan mengoleskan sabun cair ke duburnya dan juga ke batang kemaluanku. “Ki giliran aku ya”, Oki cuma tersenyum. Kemudian aku langsung mencoba memasukkannya ke dalam duburnya, sedikit seret, lalu suruh oki mengangkat kakinya dan memegang bawah lututnya. Aku tambahkan sabun cair ke duburnya sambil kedua tanganku masuk, kemudian aku mencoba memasukkan batang kemaluanku lagi, seret dan perih yang pertama aku rasakan tapi aku tetap penasaran dan dengan sekali sentakan aku masukan batang kemaluanku ke duburnya, “akhh…” aku dan Oki mengerang bersamaan sakit tapi enak. Aku menindih tubuh Oki dan bertopang pada ke dua tanganku sambil pantatku bergerak naik turun menghujam duburnya Oki. Gerakanku aku percepat saat batang kemaluanku mau meledak dan aku hujamkan batang kemaluanku sedalam mungkin di dubur Oki, “Engkhh… aaakkhh…” batang kemaluanku menyemburkan maninya ke dalam dubur Oki dan kurasakan bagian pusarku juga ada cairan kental yang menyembur, ternyata Oki menyemburkan maninya lagi.
Aku menjatuhkan tubuhku di atas tubuh Oki dan setelah kurasakan semua kenikmatan itu sudah mulai hilang dan batang kemaluanku mengecil lagi aku cabut batang kemaluanku, kemudian aku menjilati sisa-sisa mani di perut dan batang kemaluannya bau tapi nikmat, begitu juga Oki menjilati batang kemaluanku sampai beris. Kemudian aku berbaring di samping Oki, dan kami pun tertidur karena kelelahan. Kami bangun kesiangan, dan akhirnya Oki membolos kuliah dan aku menelepon ke sekolahnya kalau Oki sedang sakit. Kemudian kami mandi bersama-sama, di kamar mandi aku mengajarinya melakukan onani. Sejak saat itu kami sering melakukannya baik onani dan oral sex dengan berbagai variasi. Tapi anal sex kami merupakan yang pertama dan terakhir soalnya aku nggak mau ambil resiko dengannya, lagi pula menurutku lebih enak melakukan onani dan oral sex lebih aman dan lebih bersih.

Minggu, 01 Juli 2012

TANTE LINDA

Aku seorang pria berusia 40 tahun, wiraswastawan, dan bukan seorang petualang sex yang mencari cari hubungan sex dimana mana. Kejadian yang aku alami kira kira dua tahun yang lalu ini adalah suatu kebetulan belaka, meskipun harus kuakui bahwa aku sangat menikmatinya dan kadang berharap dapat mengulanginya lagi.

Pekerjaanku membuatku banyak bertemu dengan ibu-ibu rumah tangga ditempat kediaman mereka. Beberapa langganan lama kadang menemuiku dengan masih berpakaian tidur ataupun daster. Pakaian tersebut kadang cukup minim dan tipis dan sering memperlihatkan tubuh si pemakai yang sering tanpa BH, maklum mereka kadang kadang belum mandi dan merias diri karena aku menemui mereka pagi pagi untuk mengejar waktu.
Salah satu pelangganku setiaku, sebut saja Bu Linda, seorang Ibu rumah tangga berusia 40 tahunan, memintaku untuk datang ke tempatnya di suatu kompleks apartemen di bilangan Jakarta Barat. Seperti biasa aku datang pagi pagi pada hari yang dijanjikan. Bu Linda adalah pelanggan lamaku dan hubungan kami sudah cukup akrab, lebih sebagai teman dan bukan hubungan bisnis semata. Hari itu Bu Linda menemuiku dengan memakai daster longgar berdada agak rendah, panjangnya setengah paha, jadi cukup pendek.

Beliau adalah seorang wanita yang cukup cantik, berkulit putih bersih (Chinese), langsing dengan pinggul lebar, pantat yang menonjol dan dada yang sedang sedang saja. Wanita yang menarik dan sangat ramah. Tapi ini bukanlah yang pertama kalinya ia menemuiku dalam pakaian seperti itu, bahkan pernah dengan pakaian tidur yang sangat tipis dan sexy, entah sengaja atau tidak, yang jelas, selama ini beliau tidak pernah menunjukkan tingkah laku yang mengundang ataupun berbicara hal hal yang menjurus. Dan akupun tidak pernah mencoba untuk melakukan tindakan yang mengarah kesitu, maklum, bukan gayaku, meskipun harus kuakui bahwa aku sering ingin juga melakukannya.

Seperti biasa kami duduk disofa berhadap hadapan dan membicarakan bisnis. Setelah urusan bisnis selesai kami bercakap cakap seperti layaknya antar teman, tapi kali ini pandanganku sering tertuju kearah pahanya. Karena dia duduk dengan menyilangkan kaki maka hampir seluruh pahanya terpampang dengan jelas di hadapanku, begitu putih dan mulus. Bahkan kadang kadang sekilas terlihat celana dalamnya yang berwarna biru muda pada saat ia mengganti posisi kakinya. Dan yang lebih menggoda lagi, aku dapat melihat buah dadanya yang tidak terbungkus BH kalau beliau menunduk, meskipun tidak seluruhnya namun kadang aku dapat melihat pentilnya yang berwarna coklat tua.

Sejak 4 hari aku tidak melakukan hubungan sex karena istriku sedang haid, padahal biasanya kami melakukannya hampir setiap hari. Karena itu aku berada dalam keadaan tegangan yang cukup tinggi. Pemandangan menggoda dihadapanku membuat aku agak gelisah. Gelisah karena kepingin, pasti, tapi gelisah terutama karena kontolku yang mulai ngaceng agak terjepit dan sakit. Disamping itu aku tidak ingin Bu Linda memperhatikan keadaanku. Hal ini membuat aku jadi salah tingkah, terutama karena kontolku sekarang sudah ngaceng penuh dan sakit karena terjepit. Aku ingin memohon diri, tapi bagaimana bangun dengan kontol yang ngaceng, pasti kelihatan. Sungguh situasi yang tidak mengenakkan. Bangun salah, dudukpun salah.

Tiba tiba Bu Linda berkata, “Pak Yan (kependekan dari Yanto, namaku), kontolnya ngaceng ya?”
Aku seperti disambar petir. Bu Linda yang selama ini sangat ramah dan sopan menanyakan apakah kontolku ngaceng, membuatku benar benar tergagap dan menjawab, “E.. iya nih Bu, tahu kenapa.”
Bu Linda tersenyum sambil berkata, “Baru lihat paha saya sudah ngaceng, apa lagi kalau saya kasih lihat memek saya, bisa muncrat tuh kontol. Ngomong ngomong kontolnya engga kejepit tuh Pak?”

Kali ini aku sudah siap, atau sudah nekat, entahlah, yang jelas aku segera berdiri dan membetulkan posisi kontolku yang dari tadi agak tertekuk dan berkata, “Mau dong Bu lihat memeknya, entar saya kasih lihat kontol saya dah.”
Bu Linda pun berdiri dan mengulurkan tangannya kearah kontolku, memegangnya dari luar celana dan meremas remas kontolku, lalu berkata, “Bener nih, tapi lihat aja ya, engga boleh pegang.”

Kemudian beliau melangkah mundur selangkah, membuka dasternya dan kemudian celana dalamnya dan berdiri dalam keadaan telanjang bulat dua langkah dihadapanku. Kemudian ia duduk kembali kali ini dengan mengangkangkan kakinya lebar lebar sambil berkata, “Ayo buka celananya Pak, saya ingin lihat kontol Bapak.”

Sambil membuka pakaianku aku memperhatikan tubuh Bu Linda. Teteknya berukuran sedang, 36 B, putih dan membulat kencang, pentilnya coklat tua dan agak panjang, mungkin sering dihisap, maklum anaknya dua, lalu selangkangannya, bersih tanpa selembar bulupun, total dicukur botak, sungguh kesukaanku karena aku kurang suka memek yang berbulu banyak, lebih suka yang botak. Lalu bibir memeknya juga cukup panjang berwarna coklat muda, membuka perlahan lahan memperlihatkan lubang memek yang tampak merah muda dan berkilatan, agaknya sudah sedikit basah.

Yang paling mengagumkan adalah itilnya yang begitu besar, hampir sebesar Ibu jariku, kepala itilnya tampak merah muda menyembul separuh dari kulit yang menutupinya, seperti kontol kecil yang tidak disunat, luar biasa, belum pernah aku melihat itil sebesar itu. Tangan Bu Linda mengusap usap bagian luar memeknya perlahan lahan, kemudian telunjuknya masuk perlahan lahan kedalam lubang memek yang sudah merekah indah dan perlahan lahan keluar masuk seperti kontol yang keluar masuk memek. Sementara tangan yang satu lagi memegang itilnya diantara telunjuk dan ibu jari dan memilin milin itilnya dengan cepat.

Akupun tidak mau kalah dan mengusap usap kepala kontolku yang 14 cm, kemudian menggenggam batangnya dan mulai mengocok sambil terus memperhatikan Bu Linda. Bu Linda mulai mendesah desah dan memeknyapun mulai menimbulkan suara berdecak decak karena basah, tampak air memek yang berwarna putih susu mengalir sedikit membasahi selangkangannya. Kami onani sambil saling memperhatikan. Sungguh tidak pernah kusangka bahwa onani bareng bareng seorang wanita rasanya begitu nikmat.

Saat hampir nyemprot, aku menahan kocokanku dan menghampiri Bu Linda yang terus menusuk nusuk memeknya dengan cepat. Aku berjongkok dihadapannya dan lidahkupun mulai menjilati memeknya. Bu Linda mencabut jarinya dan membiarkan aku menjilati memeknya, tangannya meremas remas kedua teteknya dengan keras. Aku menjulurkan lidahku kedalam lubang memek yang menganga lebar dan menusuk nusukkan lidahku seperti ngentot, Bu Linda mulai mengerang dan tak lama beliau menarik kepalaku kearah selangkangannya membuat ku sulit bernapas karena hidungku tertutup memek, kemudian terasalah memeknya berkedut kedut dan bertambah basah.

Rupanya Bu Linda sudah memperoleh orgasme pertamanya. Tapi aku tidak puas dengan hanya menjilati lubang memeknya, sasaranku berikutnya adalah si itil besar. Mula mula kujilat jilat kepala itil yang menyembul dari kulit itu, lalu kumasukkan seluruh itilnya kemulutku dan mulailah aku menyedot nyedot sang itil. Belum pernah aku begitu merasakan itil di dalam mulut dengan begitu jelas, dalam hatiku berpikir, “Begini rupanya ngisep ‘kontol kecil’”.
Maklum itilnya benar benar seperti kontol kecil. Bu Linda mengerang erang dan menggoyang goyangkan pinggulnya kekiri kekana sehingga aku terpaksa menahan pinggulnya dengan tanganku supaya sang itil tidak lepas dari hisapanku. Tidak lama beliau mengeluarkan lenguhan yang keras dan memeknya pun kembali berdenyut denyut dengan keras, kali ini dengan disertai cairan putih susu yang agak banyak. Rupanya orgasme kedua telah tiba. Aku melepaskan itilnya dari mulutku dan mulai menjilati cairan memeknya sampai bersih. Sungguh nikmat rasanya.

Bu Linda tergolek dengan lemasnya seperti balon yang kurang angin. Akupun berdiri dan mulai mengocok ngocok lagi kontolku yang sudah begitu keras dan tegang. Mata Bu Linda mengikuti setiap gerakan tanganku mempermainkan kontolku. Saat aku hampir mencapai orgasme, kudekatkan kontolku ke mukanya dan Bu Linda segera membuka mulutnya dan menghisap kontolku dengan lembutnya. Aku sungguh tidak sanggup lagi bertahan karena hisapannya yang begitu nikmat, maka akupun menyemprotkan air maniku di mulutnya. Rasanya belum pernah aku menyemprot senikmat itu dan kontolku seolah olah tidak mau berhenti menyemprot. Begitu banyak semprotanku, tapi tidak tampak setetespun air mani yang keluar dari mulut Bu Linda, semuanya ditelan habis.

Sejak itu kami selalu onani bareng kalau bertemu, dan percaya atau tidak, aku belum pernah memasukkan kontolku kedalam memeknya. Kami sudah sangat puas dengan ngocok bersama sama. Sayangnya beliau sekeluarga pindah keluar negri sehingga aku sekarang kehilangan temen ngocok bareng. Tapi kenangan itu tetap ada di hatiku.
Mungkin ada diantara ibu-ibu atau pasangan yang suka ngocok bareng denganku, silahkan kirim e-mail, pasti akan kubalas. Percayalah, lebih nikmat ngocok bareng dari pada sendiri sendiri.

Demikianlah Cerita Dewasa tentang Seks Ibu rumah tangga yang panas, Seks Ibu rumah tangga yang berumur 40 tahun dengan pria yang juga berumur 40 tahun, selingkuh dan terlibat hubungan seks dengan tanpa disengaja dan berlanjut dengan disengaja, kini Seks Ibu rumah tangga tak cuman ibu muda, ibu umur 40 tahun juga bisa mengalami Seks Ibu rumah tangga.